"Loading..."

Anak-anak Taman Rimba Ingin Jadi Presiden hingga Pesepakbola

TIMESINDONESIA.CO.ID (24/9/2017) | Tinggal di dekat hutan pinus Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Utara, tidak menghalangi anak-anak Lingkungan Papring, Kelurahan Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur untuk bercita-cita besar.

Anak-anak peserta Kampoeng Baca Taman Rimba (Batara) itu menyampaikan cita-cita masing-masing dalam kegiatan hari ini, Minggu (24/9/2017). Kebanyakan dari mereka ingin menjadi pesepakbola, kemudian tenaga medis, guru, polisi hingga presiden.

Misalnya Irfan Efendi (11) yang ingin menjadi pesepakbola profesional dan bermain hingga ke luar negeri. Dia mengatakan akan membangun lapangan sepak bola di kampungnya agar semua anak penyuka sepak bola bisa asik bermain.

“Kalau saya menjadi pesepakbola profesional, saya akan membelikan bola untuk adik-adik saya di Kampoeng Batara. Saya akan bermain bersama mereka agar mereka menjadi pemain terkenal,” kata Pendik, sapaan Irfan Efendi.

Sementara itu Reza Saputra menuliskan cita-citanya ingin jadi Presiden. Seakan-akan sedang berkampanye, Reza yang masih duduk di kelas 4 SD itu mengatakan akan membangunkan rumah yang bagus bagi masyarakat Dusun Papring.

“Kalau saya menjadi presiden, anak-anak Kampoeng Batara akan saya sekolahan secara gratis. Juga akan saya ajak keliling Dunia,” tutur Reza.

Kampoeng Batara sendiri didirikan Widie Nurmahmudy Oktober 2014 atas keprihatinannya akan minat anak-anak di kampungnya yang beralih ke gadget daripada permainan tradisional. Maka dibangunnya Kampoeng Batara Sebagai wahana anak-anak itu bermain bersama, berinteraksi dan belajar.

“Kelompok belajar alternatif non formal yang tujuannya mengembangkan potensi anak-anak dengan jalur bermain dan memberi ruang untuk mereka mengeksplore kemampuan diri,” kata Widie.

Setiap hari minggu pagi, 26 anak dari yang belum sekolah sampai yang kelas 1 SMP berkumpul, berolahraga, membaca, bercerita, bermain hingga berlatih musik angklung. Widie tidak sendiri mengajar mereka karena sering kali relawan datang membantu dari kalangan jurnalis, akademisi hingga wisatawan asing.

“Orang yang datang kemari harus ikut mengajar dan bermain bersama. Tidak boleh hanya menonton,” ujar Widie.

Widie mengatakan, kegiatan hari ini untuk menggali cita-cita anak-anak dengan menulis dan membacanya di depan kelompok.

“Setidaknya mereka harus punya keberanian untuk bermimpi dan menyatakan keinginannya di depan orang lain,” ucap Widie.

Sumber : timesindonesia.co.id

Tanggal : 24 September 2017