"Loading..."

Batik Gatot dan Cinta Pertama Leni

Tuban, kota pesisir laut utara Jawa identik dengan terasi, ikan asin dan aneka hasil laut. Terletak 120 km sebelah barat kota Surabaya, Tuban menyimpan sejarah dan budaya perpaduan tradisi Jawa dan China. Bahkan kekayaan alam hasil hutan dan laut menginspirasi cerita cinta dan wirausaha.
Pada sebuah masa, Leni anak pembatik Tuban digandrungi pemuda desanya. Mencuri hati Leni bagi seorang Gatot sulitnya luar biasa. Gadis itu acuh tak acuh bila sang pemuda menemuinya. Ibarat hewan-hewan air yang sigap berenang di lautan, Gatot mengubah haluan. Ia menemui Emi Supangesti yang tidak lain adalah ibunda Leni. Membeli batik adalah kepura-puraannya seolah ingin belajar membatik.
Ketika tangannya asyik menari-nari di atas kain inilah Gatot berangan-angan bisa memiliki usaha batik sendiri dan menuangkan ide-ide kreatifnya membatik motif hewan air, daun jati atau ranting-ranting pohon di atas kain.
Ketika Gatot menyampaikan idenya, hati Leni luluh. Akhirnya ia bersedia dipinang pencuri hati yang baik itu. Pasangan Agus Gatot Wiyanto dan Leni Sugiharti bertekad mengawali usaha Batik gatot di jalan Majapahit Karang, Tuban, Jawa Timur.
Bermodal tiga juta rupiah dari orangtua, Gatot hanya bisa membeli kain dari yang lain maka banyak orang penasaran ingin membeli. Tanpa disangka pesanan batik motif hewan laut pun melonjak drastis. Bank lokal dan lembaga kreit berdatangan menawarkan utangan termasuk beberapa BUMN di wilayah Tuban.
Gatot menjatuhkan pilihan pada tawaran Perhutani Tuban. Ia memperoleh pinjaman PKBL sebesar Rp 15 juta rupiah dari Perhutani Tuban tahun 2005. Selain modal uang, ia juga difasilitasi mengikuti pelatihan cara membuat batik tulis di kota batu, Malang. Fasilitas PKBL sangat membantu usahanya selama ini. Mudah murah meriah katanya.
Usai pelatihan membatik, pucuk dicinta ulam tiba. Gatot dan leni banjir order batik dari beberapa kota termasuk dari luar negeri seoerti Malaysia dan Eropa. Motif-motif Gatot unik dan menarik banyak kalangan. Contohnya adalah batik tulis motif hewan air seperti gurita, cumi-cumi, dan kerang. Juga motif ranting dan daun jati yang terinspirasi dari hutan jati di tuban.
Proses pembuatan batik tulis umumnya sama. Pemilihan bahan sesuai keinginan pembeli, membuat pola, pembatikan hingga pencelupan warna. Tetapi, ciri kahs batik Gatot adalah teknik pencelupan warna. Batik tulis yang warnanya cenderung lebih tajam, teknik pencelupan warna empat kali proses dari yang paling muda hingga tua. Sedangkan proses pencelupan warna umumnya hanya dilakukan sekali bahkan maksimal dua kali saja.
Menurut Gatot, kebanyakan bahan batiknya yang mahal memiliki warna yang lembut,elegan dan menenangkan atau teduh. Bahan kain batik yang dijual pun beragam dari bahan Cotton, Paris hingga Sutera.
Harga batik yang ditawarkan bervariasi dari Rp. 180.000,- hingga Rp. 600.000,- per potong kain sepanjang 2 meteran. Omzet awal di bawah Rp. 5 juta per bulan, sekarang ia mengaku pendapatan bersihnya mencapai lebih Rp. 20 juta sebulan. Karyawan yang dahulu hanya 10 orang, kini tidak kurang 30 orang orang perempuan bekerja pada usaha keluarga ini.
Gatot ingin buka cabang toko batik dimana-mana selain memasarkan batik via online pesanan dari luar negeri. Ia mengaku belum paham akan hal ini, tetapi ia harus terus belajar. Pikirannya penuh fantasi, idenya sangat jujur berjalan kemana-mana. Bahkan kejujuran cinta telah mengantarnya menemukan hati Leni dan kreativitas karyanya sebagai anak bangsa.
Oleh: Soesi Sastro

Share:
[addtoany]