"Loading..."

Berkemah Sambil Menelusuri Sejarah di Cengkrong

img7-2PIKIRAN RAKYAT (25/2/2017) | Di antara sejumlah daya tarik kawasan kehutanan di Rajamandala, yakni lokasi perkemahan Cengkrong yang juga berada di wilayah pengelolaan Perhutani BKPH Rajamandala, lokasinya sekitar 2 km dari arah gerbang perkebunan karet Rajamandala (bagian dari PTPN VIII Kebun Pangjelar). Kebetulan pula lokasi perkemahan Cengkrong jalur masuknya 200 meter dari tepian jalan areal perkebunan karet Rajamandala dan berbatasan dengan kebun karet

Dari sosoknya, lokasi perkemahan Cengkrong merupakan hutan produksi berupa tegakan pohon-pohon pinus. Dari penampakannya, lokasi Cengkrong memang masih sangat jarang dikunjungi orang, tetapi kesehariannya diurus oleh Pramuka Saka Wanabakti.

Menurut Acep. selalu ketua Saka Wanabakti di Cengkrong, sekitaran perkemahan Cengkrong sebenarnya juga terdapat beberapa curug. Yang diketahui dan tergolong dekat dikunjungi adalah Curug Kujang 15, Curug Poek, dan Curug Nyalangkadar.

Lain halnya dari aspek sejarah, kawasan Rajamandala, terutama kawasan hutan Cengkrong tercatat dahulunya pernah menjadi salah satu lokasi padepokan masa kerajaan Islam di zaman Prabu Tajimalela (abad ke-15). Di antara murid Prabu Tajimalela yang ada di sekitar hutan Cengkrong adalah padepokan Gagak Ngampar.

Acep pun menunjukkan sejumlah tunggul pohon jati yang dikatakan ditemukan di sekitar hutan Cengkrong dan diyakini sudah menjadi fosil. Sejauh ini belum diketahui umur pasti tunggul pohon jati itu, tetapi diyakini pula sudah sangat tua lebih dari 100 tahun.

Dikatakan Acep, semula tunggul kayu jati tersebutjumlahnya lumayan banyak di sekitar Cengkrong. Namun, kemudian banyak yang hilang pada tahun 2016, diketahui karena oleh banyak orang dijadikan batu akik saat perdagangannya marak di mana-mana.

Asper BKPH Rajamadala, Harry Soedjana mengatakan, dari suasananya, kawasan hutan Cengkrong, khususnya yang kini dijadikan tempat perkemahan, dari pengamatannya suasananya masih mirip seperti hutan Cikole di Lembang saat masih tahun-tahun 1980-1990. Lima hektare kawasan hutan Cengkrong yang kini dikembangkan untuk lokasi perkemahan.

Menurut dia, kawasan hutan Cengkrong dijadikan tempat perkemahan, sejak lokasi ini dijadikan Rakernas Pramuka yang dibuka Ketua Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Jawa Barat Dede Yusuf, Februari 2016 lalu. Namun, karena potensinya tersebut, akhirnya lokasi bersangkutan diteruskan sebagai tempat perkemahan, dengan keseharian dikerjasamakan dengan Pramuka Saka Wanabakti.

Disebutkan, tegakan-tegakan hutan pinus di hutan Cengkrong sebenarnya masih disadap, getahnya dibawa untuk diolah ke Pabrik Gondorukem dan Terpentin Sindangwangi, Nagreg, Kabupaten Bandung. Namun, jika lokasi perkemahan di Cengkrong sudah ramai, kemungkinan penyadapan getahnya tak dilakukan lagi

“Di kawasan kehutanan Rajamandala sebenarma bukan sekadar menikmati keindahan dan keaslian kawasan hutan, sungai, aliran air, juga masih banyak curug yang keberadaannya belum begitu banyak diketahui publik dan masih sangat alami. Begitu pula bagi yang gemar ilmu pengetahuan, tampaknya kawasan ini menjadi tempat yang menarik,” ujar Harry Soediana.

Sumber: Pikiran Rakyat, hal. 23

Tanggal: 25 Februari 2017