"Loading..."

Berkereta Api Tempo Dulu

SUARA MERDEKA (23/3/2018) | Ingin berwisata naik kereta tempo dulu?

Inilah jawabnya Museum Kereta Api Ambarawa. Di sini terdapat lokomotif BB1O 12 buatan Schwartzkopff (Jerman) yangdulu semasa penjajahan Belanda. Museumini dulu merupakan stasiun kereta api yang megah pada zamannya.

Misalnya, kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa didunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India.

Selain berbagai koleksi unik, masih dapat disaksikan berbagai lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.

Stasiun ini dibangun pada 21 Mei 1873 di atas tanah seluas 127.500 meter persegi yang dikenal sebagai Stasiun Willem I Rel Kereta Api dengan gauge 1067mm, menghubungkan Stasiun Magelang dan Willem I. Dan jalur rel 3ft 6in (1067 mm) menuju Yogyakarta.

Kereta api yang memiliki rel gerigi antara Jambu dan Secang ini merupakan satu-satunya yang masih beroperasi di Pulau Jawa. Jalur di luar Bedono ini ditutup pada awal 1970, setelah rusak akibat gempa.

Sedangkan untuk melestarikan peninggalan sejarah, museum melayani kereta wisata Ambarawa – Bedono , Ambarawa-Tuntang , dan lori wisata Ambarawa-Tuntang.

Kereta wisata Ambarawa-Bedono atau lebih dikenal Ambarawa Railway Mountain Tour beroperasi dari museum ini menuju Stasiun Bedono yang jaraknya 35 kilometer dan ditempuh satu jam sampai stasiun.

Kereta ini melewati rel bergerigi yang hanya ada di sini dan di Sawahlunto. Panorama keindahan alam seperti lembah hijau antara Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu dapat disaksikan sepanjang perjalanan.

Begitu juga pemandangan yang dapat dinikmati dari kereta dan lori Ambarawa-Tuntang pun sungguh bagus. Kereta berangkat dari stasiun menuju Stasiun Tuntang yang berada sekitar 7 KM dari museum. Di sepanjang jalan dapat dilihat lanskap menawan berupa sawah dan ladang dengan latar belakang Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, dan Rawa Pening.

Koleksi Museum mengoleksi 21 lokomotif uap. Saat ini terdapat 3 lokomotif yang dapat dioperasikan. Lokomotif Uap B2502, salah satu dari dua lokomotif yang masih aktif dan merupakan salah satu di antara tiga yang tersisa di dunia. Dan, lokomotif Uap C1507 yang dipajang di depan museum.

Lokomotif B5112 sedang menjalani test run Ambarawa-Tuntang pulang-pergi. Beberapa lokomotif uap lain, yaitu 2 B25 B2502 0-4-2T/3, lokomotif B2501 disimpan di tempat lain.

Lalu E10 dengan seri E1060 0-10-OT yang semula dikirimkan ke Sumatera Barat pada 1960 untuk bekerja di kereta api batu bara, tetapi dibawa ke Jawa lagi, dan sebuah lokomotif konvensional 2-6-OT C1218 yang dikembalikan untuk dapat digunakan kembali pada 2006.

Namun, lokomotif E1060 dibawa ke Sawahlunto sedangkan lokomotif C1218 dibawa ke Surakarta dijadikan kereta wisata Jaladara.

Baru-baru ini museum ini dapat lokomotif diesel hidrolik D300 23 yang berasal dari dipo lokomotif Cepu yang dipindah ke dipo lokomotif Ambarawa pada 6 Oktober 2010. Lokomotif uap B 5112 yang buatan pabrik Hanomag, saat ini sedang menjalani uji coba di sekitar museum setelah 30 tahun mati.

Saat ini museum ini mempunyai koleksi baru seperti Kereta Kayu CR Madura, Kereta Kayu Magelang, NR Kayu Balai Yasa Yogyakarta dan lain-lain. Rencananya museum ini akan mendatangkan beberapa koleksi baru seperti D52099 yang berada di Taman Mini Indonesia Indah dan C2902 di Perhutani Cepu. Koleksi lain dari museum adalah telepon antik, peralatan telegram morse, bel antik, dan beberapa perabotan antik.

Sumber : Koran Suara Merdeka, hal. 6

Tanggal : 23 Maret 2018