Berpikir Realistis Tanggalkan Gengsi

Lapangan kerja di sektor kehutanan dan perkebunan, sempat kurang dilirik oleh sebagian masyarakat, terutama generasi muda, sebagai mata pencaharian yang dapat diandalkan. Namun dalam beberapa waktu terakhir, sektor lapangan pekerjaan ini ternyata semakin diminati oleh masyarakat lokal sebagai lapangan pekerjaan yang realistis.
Kegairahan juga terjadi pada usaha menyadap getah pohon pinus di Kabupaten Sukabumi bagian selatan, yang sejak setahun terakhir menjadi andalan sejumlah masyarakat di Kecamatan Sagaranten, Kecamatan Jampang, Kecamatan Bojong Lopang, dan Kecamatan Pelabuhan ratu. Masyarakat setempat kini semakin rajin mencari nafkah sebagai penyadap pinus, apalagi pendapatannya dirasakan lebih baik.
Keberadaan hutan-hutan produksi pinus di sekitar mereka, mampu menjadi sarana mencari nafkah yang cukup dapat diandalkan. Paling tidak, pendapatan dari upah menyadap getah pinus kini dirasakan lebih besar dibandingkan dengan di masa masa lalu.
Kabupaten Sukabumi diketahui menja di salah satu sentra utama produksi getah pinus di Jawa Barat, yang pengelolaannya dilakukan di sejumlah kawasan hutan produksi. Getah pinus digunakan sebagai bahan pembuat gondorukem untuk bahan baku industri sabun, kertas, cat, campuran plastik, batik, tinta cetak, pelitur, farmasi, kosmetik, dll.
Terdongkraknya pendapatan dari usaha menyadap getah pinus sangat terasa pada musim kemarau ini, karena merupakan waktu yang cocok bagi peningkatan volume sadapan. Selain digunakan untuk menopang kehidupan sebari hari, uang pendapatan hasil menyadap getah pinus juga digunakan sebagai modal untuk mengolah sawah milik mereka.
Ada kebiasaan warga setempat. Pada akhir tahun dan awal tahun, perhatian mereka terbagi antara ke sawah dan kehutanan untuk menyadap pinus. Sejak setahun terakhir, kedua usaha tersebut umumnya dapat di lakukan secara bersama sama, tanpa meninggalkan salah satunya.
Pemanfaatan kedua peluang ini diantaranya dilakukan oleh Jula (47), warga Kecamatan Sagaranten. Pada hutan tempatnya menyadap, ia memperoleh “jatah” sadapan sebanyak 500 pohon pinus dengan rata rata pendapatan Rp 400.000/sepuluh hari.
Menurut dia, pendapatan sebesar itu dirasakan melonjak, karena sebelumnya rata-rata hanya memperoleh sekitar Rp 200.000-Rp 250.000/sepuIuh hari. Itu pun pendapatannya harus dibagi untuk menghadapi musirn tanam akhir dan awal tahun sehingga sering kali tak bersisa dan baru memperoleh pendapatan jika panen baik.
Disebutkan, minat masyarakat bekerja menyadap getah pinus terlihat melonjak sejak awal tahun 2010. Hal ini disebabkan masyarakat setempat, termasuk generasi muda kaum pria, lebih melihat peluang kerja realistis di tempatnya masing masing.
Sebelum itu, menurut dia, senada dengan rekannya, Yunus, sampai dengan tahun 2009 masih banyak masyarakat laki-Iaki setempat yang menganggur. Apalagi, berbagai lowongan pekerjaan di pabrik umumnya menyerap tenaga wanita sehingga kaum prianya banyak menganggur.
Ironisnya, karena merasa kurang bergengsi bekerja di hutan, mereka sering kurang memanfaatkan peluang usaha yang ada di daerahnya sendiri. Tak heran, saat itu berbagai peluang kerja kemudian terisi oleh masyarakat Iuar Jawa Barat. Sementara itu, dalam diri mereka yang berpikir kurang logis, justru muncul “kecemburuan sosial”.
Menurut Yunus, pola pemikiran kaum laki-laki setempat, termasuk generasi muda, kemudian berubah. Mereka kemudian beranggapan, buat apa malu, yang, penting halal dan realistis. Apalagi budaya malu tak memiliki pekerjaan kemudian muncul di antara mereka. Dengan demikian, usaha menyadap getah pinus pun dilirik kembali sebagai mata pencaharian yang cukup menjanjikan.
“Kini semakin banyak kaum pria di sini merasa dirinya lebih berharga karena memiliki pendapatan. Selain dihitung hitung pendapatan pun tak berbeda dengan bekerja di pabrik, biaya hidup mereka justru lebih dapat ditekan karena tinggal di daerah sendiri,” kata Yunus, senada Jula.
**
Produksi getah pinus di Kabupaten Sukabumi berada di hutan produksi Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukaburni. Informasi menyebutkan, pada kawasan tersebut terdapat sekitar 12.000 hektare areal hutan pinus, di mana sekitar 6.000 hektare sudah berproduksi.
Menurut Wakil Administratur Bagian Timur KPH Sukabumi, Surya Sumantri, senada Kaur Produksi, Mamat, pada areal tersebut saat ini terdapat sekitar 2.000 orang tenaga penyadap getah pinus. Dari jumlah itu, perbandingannya 95 persen tenaga kerja kini berasal dari masyarakat lokal.
Disebutkan, kenaikan minat tenaga kerja penyadap getah pinus, umumnya lebih disebabkan adanya perubahan besar dalam keterbukaan dan pengelolaan yang lebih baik. Segala sesuatunya menjadi lebih jelas, misalnya situasi, perlakuan pohon, dan lain lain. Dengan demikian, para pekerja lebih bersemangat dan giat, bahkan peminatnya semakin banyak.
Selama musim kemarau, menurut Surya, produksi getah pinus di KPH Sukabumi meningkat. Sampai dengan September-Oktober saja, rata rata diperoleh produksi 540-600 ton/bulan, lain halnya di musim hujan yang hanya 200-250 ton.
Namun, katanya, karena jumlah pencari kerja dan tenaga kerja penyadap pohon pinus semakin banyak, KPH Sukabumi terpaksa menerapkan jatah sadapan. Ini dibagi-bagi dan ditentukan jumlahnya secara berbeda-beda setiap wilayah, sesuai dengan jumlah masyarakat sekitar yang mencari nafkah sebagai penyadap pinus.
Soal pendapatan, menurut mereka, jika dihitung selama 26 hari kerja, setiap tenaga kerja umumnya memperoleh pendapatan antara Rp 1 juta – Rp 1,3 juta. Ini dengan rentang jam kerja mulai pukul 07.00 12.00 WIB, sedangkan sebagian ada yang ingin memperoleh lebih dengan melanjutkannya pada pukuI13.00-16.00 WIB.
Mereka menilai, jika dihitung hitung, upah sebesar itu sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pendapatan jika bekerja di sejumlah pabrik di Sukabumi. Dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Sukabumi tahun 2011 sebesar Rp 850.000, untuk mencapai di atas Rp 1,2 juta, para pekerja pun harus kerja lembur.
Kendati demikian, KPH Sukabumi tak hanya mengutamakan produksi. Mereka juga melakukan perawatan tanaman lebih baik. Menurut Surya Sumantri, perlakuan untuk mengoptimalkan sadapan, lebih banyak dilakukan dengan memberikan cairan organik yang merangsang munculnya getah. Begitu pula lebar perangkat sadapan, dari semula hanya 3 cm kini menjadi 6 cm, sehingga lebih banyak menampung getah tetapi lebih menjaga kesehatan pohon.
Dalam mengantisipasi musim hujan yang mungkin sudah terjadi di akhir Oktober, KPH Sukabumi sudah mempersiapkan agar getah pinus tetap banyak diproduksi. Caranya, setiap bidang sadapan diberikan naungan plastik kecil sehingga air hujan tak mengganggu kualitas getah pinus.
“Karena industri non kayu sudah begitu diandaIkan di hutan hutan produksi di Jawa Barat. oleh karena itu, penanganan sumber daya hutan dan sumber daya manusianya pun harus semakin seimbang. Intinya, kami harus semakin mampu menciptakan keseimbangan peningkatan produksi secara sehat bagi tanaman, diimbangi kegairahan tenaga kerja , katanya.
Nama Media : PIKIRAN RAKYAT
Tanggal : Kamis, 6 Oktober 2011/h. 25
Penulis : Kodar S
TONE : POSITIVE

Share:
[addtoany]