"Loading..."

Bersenang-Senang di Sikembang Park

PIKIRAN RAKYAT (9/4/2017) | Namanya “Sikembang Park” atau “Kembanglangit Blado”. Nama yang unik itu merupakan salah satu lokawisata alam yang dikembangkan wargadi sekitar hutan di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah.

Lokasinya menempati area hutan pinus Perhutani wilayah Pekalongan Barat seluas 3,5 hektare. Perjalanan ke Desa Kembang Langit, Dukuh Kebaturan, Kecamatan Blado, cukup mudah. Waktu tempuh hanya satu jam dari pusat kota. Kondisi jalan cukup bagus, beraspal, dan mulus. Jalannya berliku-liku dan berkelok. Karena berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), tidak heran jika udaranya sejuk.

Meskipun baru dikenalkan sejak 2016, Sikembang Park yang dijaga keasriannya oleh warga sekitar, mampu menyedot perhatian warga di wilayah pantai utara (pantura) Jateng. Padahal, konsep wisata yang dijual sederhana. Pengelola memanfaatkan setiap sudut atau bagian sisi hutan pinus dengan jitu sehingga nilai jual sebagai lokasi wisata cukup menjanjikan.

Selain itu, penataan area hutan pinus menggunakan properti sederhana dengan tetap menjaga sisi artistik. Sikembang Park tidak memanjakan pengunjung, tetapi mendorong wisatawan untuk berolahraga ringan sambil bersenang-senang.

Ada flying fox dan gardu pandang. Tersedia pula jalur trekking. Terdapat arena jembatan bambu dan canopy bridge sehingga pengunjung bisa menikmati wisata Sikembang dari ketinggian. Berswafoto dengan latar belakang jalan berliku berleter S, tak kalah indahnya.

Tampaknya, Sikembang Park menjadi surganya kaum muda pemburu swafoto. Tempat itu menjadi lokasi favorit untuk mengabadikan setiap momen kegembiraan di tengah rimbunnya pohon pinus. Sikembang Park juga sering banget diabadikan dalam foto prewedding.

Tiket masuk ke wisata, alamak, sangat murah. Dengan merogoh Rp 3.000 per orang bisa menjajaki wilayah 3,5 hektare bebas menggunakan fasilitas tersedia. Parkir mobil hanya Rp 2.000. bahkan sepeda motor gratis. Toilet yang bersih dengan air yang berlimpah juga gratis. Akan tetapi, apa tega tidak meninggalkan ongkos untuk kebersihan? Rasanya enggak tega tuh.

Tempat nongkrong

Sebelum menjadi lokawisata, Sikembang hanya hutan penyadap getah pinus dan tempat nongkrong pemuda setempat. Kemudian, para pemuda Desa Blado – saat ini menjadi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dengan nama Bombat (Bocah Mbatura) – menyadari bahwa tempat nongkrong mereka punya nilai lebih. Selain punya pemandangan bagus, tempatnya strategis dan layak dikembangkan sebagai lokawisata.

“Kami dari masyarakat sekitar hutan kemudian nembung (meminta) ke Perhutani agar LMDH diberi kesempatan mengembangkan lokasi tersebut (Sikembang Park) menjadi lokawisata tanpa merusak atau mengubah alam dan pepohonan,” kata salah seorang pemuda, Wahyu.

Mereka lalu memaparkan konsep Sikembang Park. Gayung bersambut, Perhutani mendukung ide warga sekitar hutan yang dipelopori Wahyu dan kawan-kawannya. Puluhan pemuda lalu kerja bakti selama hampir tiga tahun mengembangkan Sikembang Park dengan sharing pendapatan 40-60.

Tidak butuh waktu lama, Sikembang Park menjadi populer. Pendapatan pun terus mengalir. Ketika akhir pekan dan hari libur nasional, pengunjungselalu penuh. Mereka datang dari luar Batang atau wilayah pantura seperti dari Pekalongan, Kendal, hingga Semarang.

“Pada tahun baru lalu, jumlah pengunjung membeludak. Bahkan, jalanan macet,” ucap Wahyu.

Selama tidak turun hujan, Sikembang Park selalu dipadati pengunjung. Bombat bahkan mampu menyetor Rp 25 juta ke Perhutani. Sumbangan tersebut berasal dari tarif termurah yang ditarik dari pengunjung, Rp 3.000 per orang.

Menurut Wahyu, Bombat ingin memecahkan rekor MURI sebagai wisata termurah, bersih, dantoleran terhadap lingkungan.

Sekretaris Bombat, Govar menambahkan, keuntungan Sikembang Park bukan hanya untuk pengelola, tetapi ada misi sosial bagi warga Blado yang kurang beruntung.

“Misi kita tidak melulu uang, keuntungan semata. Bombat dibentuk untuk misi sosial. Artinya, pendapatan tidak hanya masuk ke kelompok, tetapi juga kepada warga sekitar hutan. Di antaranya warga jompo atau piatu. Bombat juga sebagai penyalur tenaga kerja pemuda setempat yang menganggur,” tuturnya. (ET-anti/TR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, hal. 7

Tanggal: 9 April 2017