"Loading..."

"Bisnis Non Kayu Akan Lebih Dominan"

Luas hutan terus menyusut. Begitu pula hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani. Saat ini hutan kelolaan BUMN ini seluas 2,4 juta hektare kurang dari 30% dari luas Jawa. Akibatnya, penghasilan Perhutani dari kayu juga ikut melorot.

Agar kinerja tetap tinggi, Perhutani mulai melakukan transformasi bisnis. Sumber daya non kayu yang melimpah mulai digarap secara maksimal. Mulai dari air, getah pohon, wisata ekologi, bahan galian dan lain sebagainya. Caranya, Eko Edhi Caroko dari Majalah BUMN Track berkesempatan mendapat penjelasan dari Bambang Sukmananto, Direktur Utama Perhutani. Berikut petikan hasil wawancaranya:Bagaimana kinerja Perhutani tahun lalu?
Secara umum kinerja Perhutani di tahun lalu masih on the track. Namun jujur saja, dari sisi penerimaan belum sesuai dengan target. Ini disebabkan kondisi ekonomi internasional yang terkait dengan bisnis Perhutani tidak begitu bagus.

Sebab, produk Perhutani merupakan produk sekunder. Jadi, bila kondisi ekonomi tidak bagus, maka konsumen akan menahan untuk membeli produk kami seperti bahan baku cat, gondorukem, kayu, maupun bahan baku furniture.

Meski begitu, kami terus berusaha untuk menjaga profit perusahaan. Pada 2011 ini, kami sepakat melakukan efisiensi. Akibatnya, profit tetap terjaga. Bahkan ada kenaikan sedikit antara 10% hingga 12%, dibandingkan tahun sebelumnya.

BUMN seperti Perhutani profit sebesar itu sudah bagus. Sebab, Perhutani berbentuk Perum (Perusahaan Umum) yang banyak melakukan kegiatan non profit. Berbeda dengan BUMN lain yang berbentuk PT yang orientasinya memang profit.

Mengapa Perhutani mulai mengurangi porsi core businees ke usaha non kayu?
Waktu saya datang ke Perhutani pertama kali, saya berpikir apa yang akan dilakukan Perhutani 25 tahun mendatang. Tentunya, tidak bisa perusahaan yang mengandalkan sumber daya alam seperti Perhutani berpikirnya jangka pendek. Ketika 25 tahun yang lalu kami juga tidak berpikir bahwa kondisi bisnis akan seperti saat ini, perubahannya begitu cepat.

Bila dicermati lebih teliti sebenarnya aset terbesar yang dimiliki Perhutani itu adalah lahan. Di masa datang, tanah akan menjadi rebutan. Lambat laun lahan yang dimiliki Perhutani mungkin akan menyusut, sementara produktivitasnya akan dituntut lebih besar lagi. Karena itu saya berpikir bahwa Perhutani tidak bisa selamanya mengandalkan kayu sebagai sumber utama perusahaan.

Ada beberapa alasan untuk itu, di antaranya, seperti yang saya katakan tadi, lahan akan semakin terbatas. Lalu masyarakat dunia semakin kritis dengan industri kayu, nanti akan banyak pertanyaan mengapa pohon atau kayu yang sudah ditanam ditebangi.

Selain itu, munculnya beragam produk sintetis pengganti kayu. Oleh karena itu, Perhutani harus mencari pendapatan lain untuk mengkompensasi berkurangnya pendapatan dari kayu. Salah satunya adalah komoditas nonkayu yang masih banyak terdapat di hutan. Contohnya itu seperti getah dan air, yang dari sisi lingkungan masih under control.

Bagaimana kondisi bisnis kayu dan non kayu Perhutani saat ini?
Kayu masih dominan, tapi tidak seperti dulu yang mencapai 90%. Saat ini sudah berkurang hingga tinggal 60%. Suatu saat nanti akan kami balik, bisnis nonkayu yang akan lebih dominan. Saat ini kami tengah fokus memperkuat tanaman sebagai backbone Perhutani. Setiap tahun kami menanam pohon minimal seluas 50 ribu hektare per tahun. Sebab, tanpa tanaman Perhutani tidak bisa menghasilkan apa-apa. Air, getah dan sumber nonkayu lainnya tidak akan ada bila tanpa ada tanaman.

Sumber nonkayu yang saat ini jadi andalan di antaranya adalah gondorukem, getah dari pohon pinus. Ini untuk pasar ekspor. Rencananya kami akan mengolah gondorukem ini menjadi produk derivatif untuk bahan baku pembuatan cat, tinta, kosmetik dan sebagainya. Untuk air minum dalam kemasan, kabar terakhir kami kewalahan untuk mensuplai permintaan dari dalam negeri. Permintaanya bukan main terus mengalir.

Tampaknya bank mulai melirik Perhutani?
Dulu mungkin Perhutani pernah berpikir tidak membutuhkan bank karena punya duit banyak. Tapi, zaman keemasan itu sudah berganti. Dulu ada pemikiran buat apa pinjem, toh kebutuhannya hanya untuk itu-itu saja. Sekarang pemikiran itu harus ditinggalkan. Justru seharusnya ketika memiliki modal yang banyak, melakukan diversifikasi usaha. Nah, sekarang ketika mulai usaha duitnya mulai berkurang, untuk itu kemudian kami mendekati bank. Dari sisi bank senang sekali bekerjasama dengan Perhutani. Perusahaan ini bisa dipercaya dan belum pernah berhutang dan pembukuannya juga bagus.

Setelah itu?
Terus terang saja, banyak bank yang menawarkan kredit. Tetapi, saya harus menyiapkan dulu Perhutani agar bisa agresif berekspansi. Saya harus menyiapkan SDM yang baik, GCG (good corporate governance) harus bagus, kinerja harus bagus. Terus terang saja SDM Perhutani itu belum terbiasa dengan pinjam duit.

Saat ini sebenarnya tidak hanya perbankan dalam negeri yang ingin bekerjasama dengan Perhutani. Investor dari luar negeri pun berminat, seperti dari Perancis. Mereka berniat untuk membuka bisnis karet di sini dengan Perhutani. Perusahaan di negara-negara Eropa yang masih punya duit saat ini kesulitan untuk berinvestasi.

Jika begitu apa saja agenda utama Perhutani di tahun ini?
Saya tidak akan muluk-muluk di 2012. Kami akan meneruskan saja apa yang belum diselesaikan pada 2011. Ibarat mesin, sekrup-sekrup yang kendur baru saya kencengin lagi. Sistem yang sedang kami benahi adalah sistem komunikasi dan sistem data base. Nantinya dengan sistem informasi yang kami bangun dapat melihat kondisi hutan secara real time. Di lokasi mana, penanaman telah dilakukan, di mana terjadi penebangan, hal-hal seperti itu akan bisa diketahui dengan cepat.

Dari sisi bisnis, harus diakui kondisi ekonomi belum mendukung, apalagi nanti akan ada dampak dari kenaikan harga BBM. Tapi, kami tetap optimis mampu meningkatkan pendapatan antara 10%-15%.

Tahun lalu ada perubahan logo. Apakah sudah mulai mempengaruhi kinerja perusahaan?
Logo merupakan tanda bahwa kami sudah mulai berubah. Ini memberikan motivasi baru bagi para karyawan. Nah, moment-nya itu pas, ganti logo kemudian saya datang memompa semangat lagi. Ini yang saya selalu sampaikan kepada teman-teman di lapangan bahwa pergantian logo itu berarti juga harus meninggalkan stigma-stigma lama yang pernah melekat di Perhutani, seperti birokrasi yang panjang, feodalisme, eksklusisme. Sedikit-demi sedikit stigma itu memang mulai memudar. Tapi, belum menyentuh sampai dalam. Saya baru enam bulan di Perhutani, jadi memang butuh waktu untuk berubah. Dan saya yakin, karyawan Perhutani ingin berbenah dan berubah bersama.

MAJALAH BUMN TRACK :: 16 April 2012, Hal. 88-89

Share:
[addtoany]