"Loading..."

Cikole Seharusnya Juga Dipromosikan Sebagai Hutan Sejarah

Keberadaan sejumlah peninggalan bersejarah pada kawasan hutan lindung di Bandung utara dinilai sebagai aset penting. Hal tersebut juga membuat kawasan hutan lindung di Bandung utara menjadi lebih bernilai, bukan hanya pada aspek kelestarian lingkungan dan ekonomi, tetapi juga dari aspek historis.

Paling tidak, aspek historis pun dapat menumbuhkan kebanggaan serta kecintaan bangsa terhadap negaranya. Jika dikelola dengan baik, diharapkan dapat lebih memberi manfaat positif bagi masyarakat dari segi kecintaan terhadap tanah airnya.

Begitu pula atas keberadaan bekas sistem pertahanan Ciater, termasuk Benteng Gunung Putri, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung utara tengah melakukan pembenahan. KPH Bandung Utara juga menemukan sejumlah jalur yang selama puluhan tahun terlupakan, tertimbun tanah dan tertutup rumput-rumputan.

Beberapa petugas lapangan di hutan lindung Cikole menunjukkan banyak besi hilang dicokel dari dinding atau bekasbekas penggalian di beberapa tempat. Para petugas mengatakan, perusakan bekas peninggalan benteng Gunung Putri dan lain-lain dilakukan para tukang pulung atau disebut tukang kindeuw.

Selain instalasi militer, di lokasi tersebut dulu pernah ada tempat penampungan kulit kina. Sampai tahun 1990-an, berbagai kulit kina tersebut kemudian diangkut ke Perkebunan Bukitunggul atau ke Perkebunan Ciater.

Menyadari banyaknya lokasi peninggalan bersejarah di wilayahnya, KPH Bandung Utara berniat mengoptimalkannya. Berbagai peninggalan bersejarah akan dijadikan daya tarik utama hutan lindung di Bandung utara.

Asper BKPH Lembang Eris Mulyana mengakui, saat ini jalur menuju kawasan Benteng Gunung Putri dan sekitarnya sering membuat stres orang yang pertama kali datang karena jalannya begitu buruk. Lain halnya bagi mereka yang sudah terbiasa, apalagi gemar bertualang, buruknya kondisi jalan tersebut sering menjadi hal menarik.

Upaya pembersihan dan penataan akan segera dilakukan agar aspek bersejarah ini menjadi terawat dan berdaya tarik sebagai salah satu andalan kawasan hutan lindung di Lembang. Disebutkan Eris, selain aspek peninggalan sejarah dari bangunan, hutan Cikole di Lembang menyimpan sejarah pula dari populasi tegakan. Misalnya, berbagai tegakan pohon pinus kualitas dunia yang merupakan pengembangan bibit dari hasil pemuliaan yang dilakukan Franz Wilhelm Junghuhn yang selama ini dikenal sebagai “bapak kina dunia”.

Disebutkan, pohon-pohon pinus di Hutan Cikole Lembang kini kebanyakan berasal dari hasil peremajaan tahun 1980-ann dan 1990-an lalu. Namun, tetap saja pohon-pohon kina baru tersebut merupakan turunan dari klon-klon unggulan yang diciptakan Franz Wilhelm Junghuhn.

Soal kawasan hutan lindung Cikole yang selama ini menjadi lokasi wisata, menurut Administratur KPH Bandung Utara Wismo Tri Kancono, harus dapat dimaksimalkan sebagai sumber pengetahuan bagi generasi muda nasional serta internasional.

Menurut Wismo, kawasan hutan lindung di Bandung utara potensial dijadikan kawasan wisata sejarah, tinggal dikelola lebih baik dan terencana serta ada promosi yang mampu membuka mata publik bahwa kawasan hutan B.andung utara memiliki nilai sejarah.

“Diduga lebih banyak lagi peninggalan bersejarah yang terdapat di kawasan Bandung utara. Diharapkan, berbagai peninggalan sejarah tersebut dapat dimanfaatkan untuk hal-hal positif dari keilmuan sejarah serta dijauhkan dari perilaku negatif termasuk kemusyrikan,” ujar Wismo.

Hanya saja, menurut beberapa petugas lapangan, harapan yang muncul dari sejumlah pihak yang peduli aset sejarah ataupun dari Perhutani sendiri, sering dihadapkan pada kondisi yang memusingkan. Oleh karena itu, perjalanan dan nasib sejumlah aset bersejarah sering tertatih-tatih.

“Saat banyak aset sejarah diharapkan bantuan dari pihak berwenang, mereka saling melemparkan tanggung jawab. Akan tetapi, di saat yang sama, banyak pihak yang berebut ingin menguasai sejumlah aset bersejarah untuk kepentingan masing-masing,” ujar seorang petugas di Cikole yang diiyakan rekan-rekannya.

Sumber  : Pikiran Rakyat, hal 19

Tanggal  :  30 Juni 2014

 
 

Share:
[addtoany]