"Loading..."

Cipakem, Raih Penghargaan Ketahanan Pangan

Kepala Desa Cipakem, Kec. Maleber, Kab. Kuningan Diding Wahyudin, meninjau peternakan sapi yang dikelola warga, beberapa waktu lalu. Desa Cipakem berhasil meningkatkan peternakan sapi dan domba sehingga kini surplus daging dan menjadi pemasok hewan kurban. Satu mobil Colt bak terbuka, penuh dengan muatan orang, melaju dengan hati-hati ketika memulai jalan menanjak yang aspalnya sudah terkelupas. Kanan kiri jalan berupa jurang yang curam. Tampak terlihat hamparan sawah dan perkebunan, dengan udaranya cukup segar dengan hawa pegunungan.

Itulah Desa Cipakem, Kec. Maleber, Kab. Kuningan. Desa terpencil sekitar 62 km ke arah timur dari Kota Kuningan ini sejak lama menjadi salah satu desa tertinggal, sehingga hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Letak geografis Desa Cipakem di wilayah sekitar hutan dan daerahnya terpencil-pencil, belum ada sarana transportasi lintas dusun, sumber daya manusia yang rendah, banyaknya pengangguran, sarana transportasi ke kecamatan sangat memprihatinkan. Selain itu, Cipakem termasuk desa rawan pangan di wilayah Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan, dengan tercatat sebanyak 335 kepala keluarga (KK) atau 1.800 orang dari 6.502 jiwa penduduk merupakan keluarga miskin.

Melihat kondisi desa dan masyarakatnya yang sulit berkembang, tampaknya menjadi suatu tantangan bagi seorang pemuda desa Diding Wahyudin, SPd (35 tahun). Setelah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Kuningan (Uniku), dia memberanikan diri untuk ikut pemilihan kepala desa pada 2008. Tanpa disangka, warga menaruh kepercayaan sehingga Diding, tinggal di Cipakem yang lahir pada 3 Oktober 1976 jtu, menang mutlak dan mendapat dukungan penuh.

“Kami ikut pemilihan kepala desa bertujuan untuk memajukan dan menyejahterakan warga, tidak mau lagi melihat warga yang tidak bisa makan akibat kemiskinan. Pokoknya, saya harus berusaha bagaimana caranya agar warga desa kami terlepas dari kemiskinan,” tutur Diding. Langkah awal yang kami lakukan, menurut Diding, ketika Sekretaris Desa (Sekdes) Cipakem diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) maka berdasarkan kesepakatan, tanah bengkok hak Sekdes seluas 500 bata (7000 meter persegi) disewakelolakan kepada lima warga dan masing-masing pengelola diwajibkan menyetor satu kuintal padi ke lumbung desa dalam satu kali musim panen. “Saat ini, di lumbung padi desa kami sudah ada 5 ton gabah kering giling dan diproyeksikan untuk membantu warga miskin,” katanya.

Selain itu, hampir 40 persen penduduk Desa Cipakem pergi merantau ke berbagai kota besar baik Jakarta, Bandung, Semarang, bahkan ke Sumatra. Para perantau tersebut umumnya menjadi wirausaha berhasil sehingga sedikitnya dapat membantu membangun desa kelahirannya.

Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Diding. Pada Idul Fitri 2008 ketika para perantau mudik, Diding mengadakan silaturahmi. Sejumlah perantau bersedia warga yang tetap ada di desa, dengan cara membelikan domba atau sapi untuk dipelihara dengan sistem bagi hasil.Sebab, rumput sebagai pakan ternak dinilai melimpah baik di sawah maupun di daerah perkebunan milik Perhutani. .

Daerah Cipakem dari luas 2.096 ha, di antaranya seluas 1.415 ha merupakan tanah perkebunan milik Perhutani yang ditumbuhi dan ditanami rumput gajah sehingga peternak lebih bergairah dengan memelihara ternak domba dan sapi. Pakan ternak lebih dari cukup sehingga mereka banyak yang berhasil meningkatkan kesejahteraan hidupnya berkat bantuan perantau dan kini menjadi pemasok hewan ternak.

“Pada 2007, desa kami memiliki sekitar 500 ekor domba dan 200 ekor sapi. Pada 2010-2011 ini, jumlahnya C meningkat sehingga kami rata-rata tiap tahun mampu memasok hewan kurban 2.000 ekor domba atau kambing dan 700 ekor sapi dengan daerah pemasaran Jakarta. Kami sekarang surplus daging,” kata Diding.

Berkat ketekunan dan kerja keras serta adanya kebersamaan pada warga masyarakat Desa Cipakem, selain beternak, mereka juga memanfaatkan lahan sawah (irigasi) seluas 75 hektare dan sawah tadah hujan seluas 4.00 ha, serta kerja sama dengan Perhutani sehingga tanahnya bisa ditanami padi gogo (huma) dan kopi. “Kami juga sekarang menghasilkan kopi rata-rata 50 ton per musim. Ditambah gadung, singkong, pisang, cengkih, dan hanjeli sehingga Desa Cipakem saat ini dinilai mampu menciptakan ketahanan pangan,” katanya, bangga.

Atas prestasinya itu, Diding Wahyudin menjadi satu-satunya kepala desa di Jawa Barat yang mendapatkan penghargaan Adhikarya Pangan selaku pembina ketahanan pangan yang diserahkan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/12). Dia diajukan Pemkab Kuningan untuk menerima penghargaan itu karena dinilai mampu melibatkan masyarakat untuk dapat memenuhi, kebutuhan pangan dengan memanfaatkan potensi daerahnya.

Kendati demikian, akibat belum adanya sarana berupa jalan khususnya yang menghubungkan antarkampung, warga sangat kesulitan dalam mengangkut hasil perkebunannya untuk dipasarkan. Jikapun dipasarkan, si pembeli datang ke lokasi dan hasil panen dibeli dengan harga rendah.

Pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana terutama insfrastruktur berupa jalan yang mampu menghubungkan antar kampung, sangat mereka dambakan dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan. “Kondisi saat ini, jalan dari ibu kota kecamatan menuju Balai Desa Cipakem sepanjang 32 km masih memprihatinkan, juga kondisi jalan antardusun belum bisa dilalui kendaraan roda empat sehingga harga hasil bumi sangat rendah. Kami mengharapkan bantuan Pemkab Kuningan, dalam membangun insfrastruktur sehingga pendapatan warga kami semakin meningkat,” kata Diding, penuh harap. (Toto Santosa/”PR”)

Pikiran Rakyat :: 9 Januari 2012 Hal. 13

Share:
[addtoany]