"Loading..."

Ekspor Benih Jati Perlu Hati-Hati

Pemerintah diminta berhati-hati melepas benih jati unggul untuk pasar ekspor, karena itu bisa dimanfaatkan oleh negara lain yang mulai mengembangkan tanaman jati. Indonesia yang kini menjadi salah satu produsen terbesar jati di dunia bisa disalip oleh negara lain, jika ekspor benih jati tidak dibatasi.

Guru besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Mochammad Naim menjelaskan, negara-negara di luar Asean seperti Australia, Argentina, dan Kostarika saat ini mulai gencar mengembangkan jati. ”Pemerintah harus melindungi bibit jati unggul kita agar tidak sampai keluar. Kalaupun diekspor, kualitasnya yang di bawah jati unggul. Jangan sampai kualitas satu diekspor,” ujar dia kepada Investor Daily di sela kunjungan rimbawan di Cepu, baru-baru ini.

Dia menjelaskan, potensi tanaman jati baik dari sisi produksi maupun pasar di Tanah Air sangat besar. Saat ini, produk kayu jati Indonesia sudah mendominasi pasar dunia. ”Produksi kayu jati kita lebih besar dari Vietnam, Myanmar, Thailand, dan India. Kita masih mendominasi produksi jati dunia, apalagi untuk hutan tanaaman jati, kita tidak ada bandingannya,” kata dia.

Na’im juga meminta agar kegiatan penelitian dan pemuliaan tanaman jati terus dilakukan, sehingga varietas-varietas baru jati unggul bisa dihasilkan. “Kalau dari pemuliaan tanaman ini bisa menghasilkan jati yang bagus, kita akan tetap mendominasi pasar,” ujar dia. Sebelumnya, Dirut Perum Perhutani Bambang Sukmananto menjelaskan, Perum Perhutani berkomitmen untuk meningkatkan porsi tanaman jati varietas unggul bernama Jati Plus Perhutani (JPP) hingga 70% dari seluruh pohon jati yang ditanam perseroan.

Saat ini, penanaman JPP baru sekitar 10% atau 190 ha, dari total luas tanaman jati Perhutani 2 juta ha. “Kami berharap 70% kebun jati kita berganti jadi JPP. Tidak semua tanaman diganti, terutama yang sudah besar-besar. Selain itu, tidak semua daerah cocok dengan JPP,” ujar dia. Bambang menjelaskan, ada beberapa keunggulan JPP antara lain volume produksi yang jauh lebih tinggi dan masa panen lebih pendek dibanding-kan jati pada umumnya. “Penggunaan JPP bisa meningkatkan produktivitas kayu dua hingga tiga kali lipat diban-dingkan jati lokal,” ujar dia.

Masa panen JPP juga lebih pendek yaitu hanya 20 tahun, dibandingkan jati biasa yang bisa mencapai 60 tahun. “JPP sebenarnya bisa dipanen saat umur 8 tahun, tapi hasil maksimalnya didapat saat umur 20 tahun,” kata peneliti Pusat Penelitian dan Pengem-bangan Jati Perhutani Aris Wibowo. Perhutani sudah mengembangkan stek pucuk (klon) jati unggul JPP sejak 2004. Saat ini ada dua klon jati unggul yang dikembangkan BUMN tersebut, yakni Jati Plus Perhutani I (JPP PHT I) dan JPP PHT II.

Berdasarkan pengamatan, kata Bambang, penggunaan bibit asal klon unggul JPP umur 6 tahun dapat meningkatkan volume standing stock 57% di Pemalang dan 133% di Nganjuk. Volume produksi saat panen atau umur 20 tahun bisa mencapai 200-293 m3/ha, sedangkan jati lokal hanya 70 m3/ha. Mengenai kelebihan JPP dibanding tanaman jati unggul lain seperti jati unggul nusantara (JUN) yang dikembangkan koperasi pegawai Kementerian Kehutanan, Bambang menyatakan bahwa benih JPP sudah terbukti kualitasnya. “JUN itu bagus, tapi untuk kelas mereka. Untuk kelas perusahaan ya lain. Kita memproduksi seperti itu JUN, tapi hasil produksinya lebih bagus,” kata dia.

Benih Tak Berkualitas
Bambang juga mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam menggunakan bibit jati ‘unggul’ yang banyak beredar di pasar. Sebab, kualitasnya belum teruji. “Jangan sampai masyarakat sudah investasi lama, tapi hasilnya tidak jelas,” papar dia.

Berdasarkan SK Menhut P. 27/ Menhut-II/2009, menurut Bambang, klon unggul JPP menempati ranking tertinggi klasifikasi sumber benih. Menurut Bambang, prospek usaha jati ke depan masih cukup baik, karena pasar yang terus bertumbuh. Sedangkan lahan hutan ke depan semakin menyempit akibat proses pembangunan.

“Untuk menjaga pasokan itulah, mau tidak mau teknologi harus kita manfaatkan. Itu agar jati kita bagus, umur pendek, dari segi fisik tidak kalah dengan jati yang ada sekarang,” papar dia. Menurut Aris Wibowo, Perhutani dalam waktu dekat akan meluncur-kan dua klon baru jati unggul yaitu JPP PHT III dan JPP PHT IV. “Secara genetik, kita akan terus kembangkan dengan pengawinan dengan klon-klon yang lain,” ujar dia. (na)

Investor Daily :: Kamis, 10 Mei 2012, Hal 7

Share:
[addtoany]