"Loading..."

Gandeng Perhutani, AAJI Tanam 1000 Pohon di Cikole

Guna melengkapi perhelatan akbar Top Agen Award (TAA) ke-26, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menggelar kegiatan sosial (Industry Social Responsibility/ISR) melalui aksi penanaman 1.000 bibit pohon di area hutan lindung yang dikelola Perum Perhutani di kawasan Cikole, Lembang, Jawa Barat.

Aksi penanaman pohon secara simbolis dilakukan oleh petinggi dan top agen dari 37 perusahaan asuransi jiwa anggota AAJI. Ada pun 1.000 pohon tersebut merupakan sumbangan dari para agen asuransi jiwa, juga dari 37 perusahaan asuransi jiwa yang menaunginya. Kegiatan penanaman pohon ini adalah yang kedua setelah sebelumnya dilakukan di Bantul, Yogyakarta, bekerja sama dengan UGM, dalam rangkaian kegiatan TAA 2010.

“Kita tahu bahwa saat ini hampir semua perusahaan, pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat giat mengampanyekan go green. Kita juga memiliki semangat yang sama, dengan harapan para agen juga dapat berperan membantu masyarakat melalui aksi tanam 1000 bibit pohon di tanah Perhutani ini. Harapannya nanti bisa jadi penyangga air buat area Bandung, sekaligus mencegah banjir,” kata Ketua AAJI, Hendrisman Rahim.

Adapun terdapat empat jenis pohon yang ditanam dalam kesempatan ISR AAJI kali ini, yakni Pinus, Damar, Gamelia, dan Puspa. Keempat jenis bibit pohon endemik yang total sumbangannya sebanyak 1.000 bibit pohon itu akan ditanam secara merata di sekitar 4.000 hektare hutan lindung Perhutai Cikole, Lembang.

Eris Mulyana, Asper Perhutani Lembang, dalam kesempatan yang sama mengatakan, ISR dalam rangka TAA AAJI kali ini sangat bermanfaat buat masa depan masyarakat Bandung, juga membantu penghasilan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Cikole. Pasalnya, baik bibit dan pupuk, Perhutani membeli dari masyarakat sekitar.

“Bibit kita beli dari masyarakat sekitar, termasuk pupuk organik dari kotoran sapi juga dari masyarakat. Jadi ini memang sangat membantu untuk meningkatkan penghasilan mereka,” ujar Eris.

Dia menguraikan, untuk setiap bibit harganya berkisar antara Rp 15 – 25 ribu. Jika dihitung dengan biaya pupuk dan operasional lainnya, setiap tanaman menghabiskan biaya di kisaran Rp 100 ribu. “Untuk AAJI ini semua biaya sudah diarajkan ke kami,” tandas Eris.

Perkembangan Kinerja

Di kesempatan yang sama, Hendrisman mengungkapkan bahwa dalam 5 tahun terakhir, pertumbuhan asuransi jiwa dari sisi premi, rata-rata tumbuh di kisaran 20 – 30 persen. Bahkan ada perusahaan asuransi jiwa yang mencatat pertumbuhan hingga 40 persen.

“Tidak banyak industri yang tumbuh sebesar itu. Jadi industri asuransi ini sudah berkembang dan terus berkembang, sehingga akan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Jadi sudah menjanjikan jadi salah satu pilar perekonomian,” jels dia.

Direktur Eksekutif AAJI, Benny Waworuntu, menambahkan, penetrasi industri asuransi jiwa terhadap PDB (produk dometik bruto) saat ini masih berada di level 2 persen. Sementara terhadap total populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 230 juta jiwa, baru sekira 4 persen. “Hingga akhir 2012, total aset asuransi jiwa sebesar Rp 300 triliun, dengan pendapatan premi sebesar Rp 102 triliun,” kata Benny.

Hendrisman mengakui bahwa, menjual produk asuransi jiwa tidaklah mudah, maka peranan agen sangat penting. “Kalau seorang sudah menjadi agen, dia akan mampu jual produk apapun,” pungkas dia. Hingga 31 Desember 2012, jumlah agen berlisensi dan aktif memasarkan produk asuransi mencapai 355.045 agen. (EVA)

Sumber : Swa Online
Tanggal : 29 Juni 2013

Share:
[addtoany]