"Loading..."

Gua Kiskenda, Penuh Dengan Cerita Legenda

viva.co.id – Gua Kiskenda terletak di desa Trayu, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Gua ini terletak 15 kilometer ke arah selatan dari kota Kendal melewati kota Kaliwungu.

Untuk menuju gua Kiskenda, selain dari Kaliwungu, bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi selama satu jam perjalanan dari kota Semarang. Setelah sampai di daerah Boja, Anda akan melewati perkebunan karet, dan melewati pedesaan yang sunyi. Sesampainya dilokasi, Anda akan merasakan udara yang menyegarkan, hal ini karena gua ini terletak pada dataran tinggi.

Setelah kita masuk ke komplek Gua Kiskendo, kesan yang didapat adalah kondisi alam yang masih alami, dan suasana sunyi yang memberi kesan misterius pada gua ini. Meskipun gua ini memiliki pemandangan yang mengagumkan, nampaknya gue ini belum dikelola dengan baik.

Gua Kiskenda memiliki daya tarik obyek berupa pemandangan alam hutan, keanekaragaman flora fauna, dan seringkali terlihat lutung berwarna hitam. Gua Kiskenda yang memiliki luas area 6,50 Ha ini relatif masih terjaga keasriannya. Untuk menjaga keasriannya, gua Kiskenda ini dikelola Perum Perhutani.

Untuk menuju lokasi mulut gua, Anda akan ditantang dengan menyusuri jalan setapak yang berbatu dan cukup curam. Begitu menuruni anak tangga gua, terasa hembusan angin yang sejuk suara serta gemericik air yang alami.

Suasana lorong-lorong di dalam gua terlihat indah, dihiasi dengan ornamen stalagmit dan stalagtit dari tetesan air yang turun ke bawah yang telah berusia puluhan, atau mungkin ratusan tahun.

Gua ini mempunyai sungai yang mengalir di dalamnya. Mengalirnya anak sungai yang membentuk cekungan di dalam goa menambah sejuk dan indah suasananya. Cekungan anak sungai ini dikenal dengan sebutan Kedung Jagan. Terdapat larangan mandi di sungai, namun pada saat air surut banyak juga warga sekitar yang mandi di sini. Airnya terasa sejuk dan menyegarkan.

Selain gua utama yang berukuran besar, di sini juga terdapat gua lain yang ukurannya lebih kecil. Bahkan pada beberapa bagian gua ini, juga biasa digunakan untuk olahraga panjat tebing.

Gua Kiskenda Kendal Jawa Tengah
Gua Kiskenda, Kendal, Jawa Tengah. Foto: VIVA.co.id/Dody Handoko

Di dalamnya terdapat gua-gua kecil yang dijuluki berbagai sebutan, misalnya gua Lawang, gua Kampret, gua Pertapaan, dan gua Kempul. Gua yang terakhir dinamai Kempul karena jika dipukul-pukul mengeluarkan bunyi seperti kempul atau alat musik gong.

Di masyarakat sekitar terdapat cerita legenda yang masih populer hingga saat ini. Legenda itu mengisahkan dua prajurit yang akan menggagalkan perkawinan Maesasura dengan Dewi Tara yang berada di Kahyangan.

Alkisah, Maesasura adalah Raja Sapi yang hendak melamar bidadari bernama Dewi Tara yang berparas cantik jelita yang ada di Kahyangan. Bersama dua patihnya yaitu Jatasura dan Lembusura, memaksa agar bisa membawa Dewi Tara untuk dijadikan permaisurinya.

Bathara Guru yang mendengar kabar tersebut segera memerintahkan Bathara Sambu untuk memnghalangi niat Maesasura yang baru sampai di Gua Kiskenda. Bathara Guru juga memerintahkan dua kesatria berwujud kera, yaitu Subali dan Sugriwa untuk menghadang Maesasura.

Bathara Guru yakin dua kesatria inilah yang dapat mengalahkan Maesasura. Bathara Guru juga berjanji, siapa yang dapat membawa Dewi Tara kembali, dialah yang berhak mempersuntingnya.

Maka dengan penuh semangat dan harapan, berangkatlah Subali dan Sugriwa ke Gua Kiskendo. Sesampainya di mulut Gua, Subali masuk lebih dulu ke dalam gua sambil berjanji meniggalkan pesan kepada Sugriwa yang menuggu di luar gua, pesannya kalau nanti ada darah merah mengalir ke luar lewat mulut gua, berarti dia berhasil mengalahkan Maesasura.

Dan seandainya yang mengalir keluar gua itu darah berwarna putih, maka sebenarnya Subali telah mati. Sampailah Subali di dalam gua, di sana Subali menjumpai Maesasura, Jatasura, dan Lembusura.

Pertempuran hebat pun terjadi. Singkat cerita, Subali dapat mengalahkan ketiga-tiganya dengan tubuh hancur lebur luluh lantak, sehingga menimbulkan air sungai yang mengalir keluar gua berwarna merah bercampur dengan otak yang hancur.

Melihat darah yang mengalir berwarna putih dan merah, Sugriwa pun mengira Subali telah tewas melawan Maesasura. Sugriwa pun kemudian bergegas menutup rapat-rapat pintu gua dengan batu besar untuk kemudian ia menghadap Bathara Guru.

Subali menyangka perbuatan yanng dilakukan Sugriwa adalah strategi untuk dapat menyunting Dewi Tara. Keduanya akhirnya terjadi perselisihan dan pertengkaran hebat akibat kesalahpahaman tadi. Sugriwa ternyata tidak dapat menggungguli Subali yang lebih sakti. Akhirnya Subali lah yang dapat menyuntung Dewi Tara. Subali pun menjadi raja kera di gua Kiskenda. (ren)

Sumber : viva.co.id
Tanggal : 24 April 2015

Share:
[addtoany]