"Loading..."

Hari Ini Pengambilan Air di Umbul Jumprit

KOMPAS.com – Rangkaian perayaan Waisak sudah dimulai dengan pengambilan air dari sumber abadi di Umbul Jumprit, Tegalrejo, Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah. Diperkirakan pukul 10.30 WIB pengambilan sudah dilakukan.
Saat berita dibuat, para perwakilan biksu dari berbagai sangha sudah berdatangan. Warga sekitar juga sudah mulai berdatangan, membawa jeriken untuk ikut mengambil air.
Air dari Umbul Jumprit akan disucikan di altar dan kemudian akan dibawa masing-masing sangha dari berbagai aliran.
kawasan Umbul Jumprit berada di lereng Gunung Sindoro, di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo dengan ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut (dpl), berjarak sekitar 26 kilometer dari kota Temanggung arah barat laut.
Kawasan Jumprit berada di jalur wisata Borobudur-Dieng, Semarang-Bandungan-Dieng serta dari berbagai arah dengan kemudahan aksesibilitas, baik dari Wonosobo, Kendal, maupun Yogyakarta.
Mata air Jumprit tidak pernah kering meskipun saat kemarau panjang. Airnya cukup dingin walaupun pada siang hari dan jernih karena berasal dari sumber air pegunungan. Umbul Jumprit merupakan sumber mata air Sungai Progo.
Umbul Jumprit merupakan tempat yang disucikan umat Buddha di Indonesia. Setiap berlangsung upacara Trisuci Waisak di Candi Borobudur, air keberkahan selalu diambil dari umbul tersebut. Biasanya pengambilan air suci dilakukan tiga hari sebelum perayaan Waisak.
Pada malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon banyak peziarah yang bermeditasi dan mandi kungkum di umbul tersebut. Air umbul Jumprit dipercaya sebagian orang bisa membuat awet muda, enteng rezeki, dekat jodoh, dan sarana membuang sial.
Di sekitar Umbul Jumprit wisatawan dapat menikmati wanawisata dengan udara segar dan keindahan pemandangan saat matahari terbit. Wanawisata Jumprit merupakan salah satu objek wisata yang eksotis di Temanggung. Tempat ini bukan sekadar menawarkan wisata hutan pinus saja, tapi juga menghadirkan objek wisata alam pegunungan yang indah.
Perjalanan menuju Jumprit wisatawan dapat menikmati panorama alam pegunungan yang indah dan agrowisata sayuran. Wisatawan dapat bermalam di kawasan Jumprit di wisma Perhutani atau mendirikan tenda di bumi perkemahan.
Wisatawan bisa menikmati kicauan burung yang saling bersautan di alam bebas dan dapat bertemu dengan sekawanan kera liar sekitar 25-30 ekor. Konon populasi kera ini tidak pernah bertambah atau berkurang.
Keberadaan Umbul Jumprit semula hanya diketahui oleh kalangan tertentu, namun sejak awal 1980 mulai ramai pengunjung, terutama mereka yang ingin berziarah ke makam Ki Jumprit dan mandi kungkum di Umbul Jumprit.
Pada 18 Januari 1987, Pemkab Temanggung menetapkan Jumprit sebagai kawasan wanawisata. Nama Jumprit disebut dalam Serat Centini, terutama terkait dengan legenda Ki Jumprit yang merupakan ahli nujum di Kerajaan Majapahit.

Share:
[addtoany]