"Loading..."

Hujan Selamatkan Palembang

Perusahaan pembakar lahan belum dikenai sanksi. Sebanyak 10 perusahaan HTI dan perkebunan diduga sebagai pelaku. HUJAN yang mengguyur sejumlah wilayah di Sumatra Selatan mampu mengurangi kepekatan asap yang masuk ke Kota Palembang, kemarin.

Badan Penanggulangan Bencana Sumatra Selatan mencatat jumlah titik api menurun menjadi 26 lokasi, semuanya berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir. “Kami juga terus bekerja keras melakukan pemadaman api di sejumlah titik. Salah satu upayanya ialah mengubah titik koordinat pemadaman, dengan melihat arah angin, sehingga kabut asap yang mengepung Palembang bisa dikurangi,” kata Kepala BPB Sumatra Selatan Yulizar Dinoto, kemarin.

Wahana Lingkungan Hidup Sumatra Selatan menilai pembakaran lahan terus berulang setiap tahun, karena aparat dan pemerintah terlalu lunak menindak pelaku, terutama perusahaan hutan tanaman in-dustridanperkebunan. “Harusnya ada tindakan tegas, karena kebakaran lahan jelas-jelas berada di lahan mereka,” ungkap Direktur Eksekutif Walhi Sumatra Selatan, Hadi Jatmiko. Ia menambahkan, selama November, ada 10 perusahaan HTI dan perkebunan yang diduga membakar lahan.

Perusahaan itu tersebar di Kabupaten Ogan Komering Dir, Muara Enim, Ogan Komering Ulu, Musi Banyuasin, Lahat, dan Pagaralam. “Kami menyesalkan penggunaan uang rakyat miliaran rupiah untuk memadamkan api. Seharusnya, pemerintah memidanakan perusahaan yang telah menyebabkan bencana,” tandas Hadi. Kemarin, BPB dan Dinas Perkebunan Sumatra Selatan, menggelar rapat koordinasi bersama beberapa perusahaan. “Jika perkebunan itu terbakar, perusahaan juga harus ikut memadamkan api.

Tetapi jika dibakar, mereka akan diproses secara hukum,” kata Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, Fahrurozzi. Darurat di 9 provinsi Dari Kalimantan Selatan, juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan pihaknya memperpanjang status darurat siaga bencana asap, kebakaran hutan dan lahan di sembilan provinsi di Indonesia. Perpanjangan dilakukan sampai 10 November, dan akan dievaluasi lagi setelahnya. “Awalnya, beberapa daerah seperti Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, status daruratnya sudah selesai.

Namun, karena titik api dan asap meningkat, status darurat diperpanjang kembali,” kata Sutopo. Ia mengakui selain faktor kurangnya hujan di Sumatra dan Kalimantan, titik api muncul kembali karena upaya pencegahan di lapangan tidak dilakukan sungguh-sungguh. BNPB sendiri sudah mengusahakan hujan buatan di Suma tra Selatan dengan menggunakan dua pesawat. Di Kalsel, tindakan serupa dilakukan dengan mengerahkan helikopter. Sampai kemarin, kabut asap masih menyelimuti sebagian wilayah di Kalsel, di antaranya Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Barito Kuala, Banjar, dan Tanah Laut. Bahkan, kabut asap peka juga kembali mengganggu jadwal penerbangan. Tercatat ada 1.489 titik api di daerah itu. Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, hujan yang turun selama 2 jam, pada Rabu (5/11), tidak membuat kabut asap hilang. Kemarin, asap kembali memenuhi kota.

Di Pulau Jawa, ratusan warga di sekitar Gunung Welirang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, disiagakan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan. Mereka bergabung dalam Masyarakat Peduli Api yang digerakkan Perum Perhutani. (DY/SS/FL/N-3)

Sumber    : Media Indonesia, 07 November 2014

Halaman : 12

Share:
[addtoany]