"Loading..."

Jalan Kaki 7 Kali Seberangi Sungai

Tim Jawa Pos Radar Banyuwangi secara bertahap telah menjelajahi beberapa air terjun dan mata air di hutan Banyuwangi Barat. Perjalanan menggali potensi wisata alam itu didukung KPH Perhutani Banyuwangi Barat.

LOKASI pertama yang jadi tujuan tim adalah air terjun Lider. Salah satu air terjun tertinggi di Bumi Blambangan itu berada di kawasan hutan di lereng Gunung Raung. Lokasi persisnya di Dusun Lider, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon.

Sejak dulu, air terjun Lider memang terkenal dengan ketinggiannya. Hasil pengukuran terakhir aparat desa setempat, air terjun tersebut memiliki tinggi 92 meter. Hampir menembus angka ketinggian 100 meter.

Untuk menuju lokasi, ada dua alternatif jalur yang bisa dilalui. Pertama, pengunjung bisa melewati jalur timur atau melewati Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon. Alternatif kedua, rute bisa ditempuh dengan melintasi Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu.

Dari dua rute itu, alternatif awal bisa dijangkau dengan durasi lebih cepat. Sebab, jalan rusak yang bakal dilalui lebih pendek. Tapi, tim ekspedisi yang dipimpin Waka Administratur KPH Perhutani Banyuwangi Barat, Rusydi memilih mengawali rute pada alternatif kedua.

Tim ekspedisi mengambil start di RPH Sidomulyo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, pukul 08.00. Rombongan menggunakan beberapa tiga unit mobil khusus dengan spesifikasi 4×4 dan didukung sejumlah sepeda off road. Dari start, jarak tempuh jalur makadam tanpa aspal sekitar 10 Kilometer menuju di lokasi air terjun tersebut.

Rute yang dilalui cukup berat. Sebab, sepanjang jalan medan jalan yang relatif rusak berat. Hanya sebagian jalan di Dusun Parastembok, Desa Jambewangi, yang terlihat masih agak mulus. Selepas itu, medan jalan rusak berat.

Semula, kanan-kiri jalan adalah area persawahan. Setelah itu, tim ekspedisi melewati permukiman juga masih di Desa Jambewangi. Perkampungan itu adalah Dusun Jaengan. Kanan kiri perkampungan itu sudah masuk kawasan hutan. Laju kecepatan mobil hanya sekitar 10 Km per jam.

Perkampungan itu merupakan ujung barat desa tersebut. Setelah itu, rute yang ditempuh praktis kawasan hutan yang ditumbuhi dengan pohon pinus. Udara segar sangat terasa selama perjalanan melewati hutan tersebut. Hal inilah yang justru menantang tim ekspedisi.

Setelah hutan itu ternyata masih ada perkampungan. Kali ini, perkampungan itu sudah terletak di kawasan PT. Tirta Harapan, Perkebunan Bayu Kidul. Perkebunan yang ditanami mayoritas tebu itu masuk wilayah Dusun Lider, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon.

Tim ekspedisi terus bergerak menuju lokasi air terjun. Menyisir rute dari sisi selatan, tim ekspedisi melihat pemandangan yang sangat fantastis. Kebetulan, saat itu cuaca cerah dan bersahabat. Di sepanjang jalan, para petani sedang bekerja memotong tebu. Ya, saat itu memang sedang panen tebu.

Sekitar 10 menit kemudian, tim ekspedisi tiba di garis finis untuk parkir kendaraan. Untuk menuju lokasi air terjun, perjalanan kembali dilanjutkan dengan berjalan kaki. Tebing curam yang pertama harus dilahap para tim ekspedisi yang berjumlah sekitar 25 orang itu.

Tim ekspedisi harus menaklukkan medan berat dengan turun ke tebing yang curam dengan ketinggian sekitar 100 meter. Butuh stamina oke agar bisa turun menuju ke aliran sungai. Setelah tiba di dasar sungai, perjalanan kembali dilanjutkan untuk menyisir sungai.

Untuk menuju titik lokasi, tim ekspedisi harus di bawah ancaman hewan pengisap darah, yakni lintah dan pacet. Sebab, hewan tersebut memang hidup di habitat dengan air dan suhu udara yang dingin.

Satu aliran sungai itu harus dilewati dengan menyilang. Setidaknya, tujuh kali sungai tersebut dilewati. Bahkan, dulu, warga sekitar menyebut, untuk bisa menaklukkan air terjun harus menyeberangi sungai tersebut sedikitnya tujuh kali. Padahal, aliran sungai yang dilewati itu hanya satu.

Setelah melewati medan yang menantang menyisir sungai dengan air bersuhu dingin itu, pada akhirnya tim ekspedisi berhasil mencapai lokasi. Air terjun tersebut tetap masih bersih. Air terjun tersebut kebanggaan Banyuwangi itu masih tetap fenomenal. Hanya, jika dibandingkan dengan puluhan tahun silam, debit air saat ini terlihat sedikit menyusut.

Tim ekspedisi seolah tidak merasakan rasa lelah setelah tiba di lokasi. Sebagian tim langsung mandi. Meski air cukup dingin. Tapi, hal itu tidak menjadi kendala berarti. Semua senang dan puas meski perjalanan dari start ditempuh dengan catatan waktu 1,5 jam.

Sumber : Radar Banyuwangi, hal. 33
Tanggal : 25 Juni 2014

Share:
[addtoany]