"Loading..."

Jokowi Dorong Hilirisasi Produk Perkebunan

Investor Daily – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong agar produkproduk perkebunan diolah di dalam negeri untuk kemudian diekspor dalam bentuk produk jadi atau setengah jadi.

Dengan program hilirisasi ini, Indonesia bisa menikmati nilai tambah dari produk perkebunan tersebut. Saat ini, sebagian besar produkproduk perkebunan masih diekspor dalam bentuk mentah. Jokowi menuturkan, saat ini produk perkebunan yang berorientasi ekspor cukup banyak dan sebagian besar masih diekspor dalam bentuk mentah.

“Saya undang para pengusaha karena ingin mendapatkan masukan, bagaimana agar komoditas-komoditas yang ada ini orientasinya diarahkan kepada ekspor. Dan yang masih berupa bahan mentah, juga bisa diarahkan kepada barang jadi maupun setengah jadi,” kata Jokowi saat memberikan rapat terbatas yang membahas masalah pertanian dan perkebunan di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (8/4). Menurut Jokowi, skema inti-plasma di sektor perkebunan juga harus dilanjutkan. Melalui skema itu, pengusaha bisa membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar perkebunan.

“Di sektor pertanian ataupun perkebunan, inti-plasma ini sangat penting, apalagi yang orientasinya ekspor. Ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, utamanya petani. Pemerintah sendiri sudah mempersiapkan lahan yang luas di luar Jawa untuk dibagikan kepada petani, supaya mereka sejahtera,” kata dia. Tampak hadir dalam rapat terbatas itu di antaranya Kepala Staf Presidenan Luhut B Pandjaitan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Agraria Ferry M Baldan, Mensesneg Pratikno, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro.

Sedangkan para pengusaha yang hadir di antaranya direktur utama Pupuk Indonesia, Sampoerna Agro, Sang Hyang Seri, Pertani, Perhutani, PTPN III, PT Smart Tbk, Rajawali Nusantara, dan Astra Agro Lestari. AmranSulaiman mengatakan, para pengusaha yang hadir dalam rapat terbatas begitu bersemangat karena adanya dorongan hilirisasi dari pemerintah. Hilirisasi pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kebun.

“Pemerintah sendiri akan memberikan bantuan kepada pengusaha untuk hilirisasi, di antaranya dengan memberikan berbagai kemudahan seperti percepatan birokrasi, penyiapan lahan juga akan dilakukan oleh pemerintah,” ungkap dia. Lebih jauh Amran mengatakan, untuk mendukung upaya peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat, pemerintah telah menyiapkan jutaan ha lahan untuk program hilirisasi dan membangun food estate. Berdasarkan evaluasi hasil kerja selama Oktober 2014-Maret 2015 sudah ada kenaikan lahan tanam seluas 700 ribu ha yang diharapkan bisa meningkatkan produksi padi hingga 3 juta ton.

Selain itu, pemerintah juga akan membangun food estate dan ke depannya untuk hilirisasi seluas 3 juta ha yang akan dilakukan tahun ini. “Ada rencana ke depan di perbatasan 1 juta ha untuk sawit, kemudian Kalimantan 500 ribu ha untuk food estate jagung, kedelai, dan padi,” kata Amran.. Fokus food estate itu, lanjut Menteri Pertanian, ada di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Namun yang di Merauke, Papua, juga akan tetap dijalankan. Untuk Kalimantan sementara ada alokasi lahan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan seluas 350 ribu ha.

Sementara itu, Franky Wijaya, CEO Sinarmas Group, mengatakan, ada keinginan pemerintah untuk mendorong kesejahteraan petani dan sektor perkebunan tumbuh tinggi. Perbaikan kesejahteraan tersebut bisa terwujud dengan adanya kerja sama antara pemerintah dan pengusaha. Kalangan pengusaha pun siap mewujudkannya, di antaranya dengan melakukan peremajaan lahan perkebunan guna meningkatkan produktivitas, di antaranya tanaman sawit.

“Dengan peremajaan 2 juta ha lahan misalnya, bisa menghemat 1 juta produktivitas dan US$ 4 miliar pertambahan pendapatan petani untuk 1 juta petani. Jadi ini akan digalakkan dalam beberapa tahun ini,” kata Franky. Franky mengatakan, perusahaan yang dipimpinnya siap berkontribusi dalam pengembangan biodiesel dan perkebunan kelapa sawit. “Pertemuan ini bertujuan untuk memperkokoh hubungan dengan para stakeholder supaya makin baik,” jelas Franky.

Sumber : Investor Daily, hal. 7
Tanggal : 9 April 2015