"Loading..."

Kala Wisatawan Buang Sampah Sendiri di Curug Gumpet

KORAN-JAKARTA.COM (10/7/2017) | Botram atau kegiatan makan bersama mulai merambah perkantoran. Namun, botram yang paling enak tetap dilakukan di alam liar. Salah satunya di Curug Ngumpet, Desa Gunung Sari, Pamijahan, Kabupaten Bogor.

Botram di kawasan ini bisa sekaligus menikmati air terjun dan hutan pinus. Lokasinya, tepat berada di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Indahnya alam di kawasan ini bisa menambah nafsu makan lebih banyak.

Meski hanya menyantap lauk seadanya, goreng tempe, tahu, telor serta oseng-osengan, kita bisa merasakan kenikmatan luar biasa. Dari Jakarta, kita cukup menempuh waktu empat am perjalanan saja. Hanya saja, jalur ini belum memiliki angkutan umum. Sehingga, mau tidak mau pakai kendaraan pribadi atau sewaan.

Di curug Ngumpet, kita bisa berenang di bawahnya. Pemandian ini cukup dalam, bisa mencapai 2 meter. Airnya yang bening serta hawanya yang sejuk, bisa membuat badan kita semakin menggigil. Hawa dingin inilah yang menyebabkan nafsu makan kita semakin enak.

Selain jernih, aliran air sepanjang sungainya pun terbebas dari limbah manusia. Baik sampah-sampah makanan atau minuman ringan yang dibawa pengunjung. Hal ini membuat tempat wisata air terjun semakin diminati.

Menurut Salahudin, 50 tahun, salah satu petugas curug Ngumpet mengatakan, pihak pengelola baik dari Perhutani maupun relawan dari desa setempat, selalu membawa sampah yang dibuang pengunjung ke tempat pembuangan sampah. Mereka membersihkan sampah-sampah mulai dari air terjun, aliran sungai, hingga taman kecil tempat berkumpul.

“Kalau sampahnya tidak diangkut begini, kita bisa ditinggalkan pengunjung. Kan, kalau tempat bersih, mereka juga akan merasa nyaman,” ucap Salahudin saat berbincang, di lokasi, Minggu (9/7).

Menurutnya, persoalan sampah selalu menjadi dilema tempat wisata. Jika tidak dikelola dengan baik, pihaknya pun yang akan merasakan kerugiannya. Terlebih, pengunjung telah dipungut tarif masuk senilai Rp 20 ribu per orang. Terdiri dari tarif pintu perhutani Rp 10 ribu dan tarif masuk curug Rp 10 ribu.

“Misalnya banyak makanan sisa pengunjung atau sampah lainnya di sini, maka sering banyak monyet turun kemari. Terkadang, monyet-monyet itu merebut makanan dari pengunjung. Itu yang membuat pengunjung tempat wisata curug berkurang,” jelasnya.

Maka tak heran, ungkapnya, jumlah pengunjung ke curug ngumpet bisa mencapai ribuan orang per hari. Terutama di hari Sabtu-Minggu atau hari libur nasional. Diakuinya, curug ngumpet atau lebih dikenal curug kondang ini lebih sering digunakan shooting film nasional.

“Hari ini saja, bisa sampai 5 ribu pengunjung. Apalagi pas libur hari raya Idul Fitri kemarin, lebih banyak lagi. Di jalur sungai ini saja kan ada 5 titik air terjun atau curug. Yang paling bagus itu Curug seribu, tingginya hingga 100 meter. Kalau di gunung salaknya, lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Haji Dani, 65 tahun, warga Jakarta Selatan mengaku selalu mengajak keluarganya ke curug itu. Menurutnya, selain murah dan bersih, curug itu pun merupakan tempat petilasan salah satu tokoh Islam di sana.

“Tempatnya enak, murah, dan cukup dekat dari rumah. Daripada pergi ke puncak, mending ke sini. Tidak terlalu macet, dan masih terlihat suasana pedesaannya. Pengelolaannya pun baik, tak terlihat gundukan sampah sedikit pun di lokasi. Kita jadi lebih nyaman,” katanya.

Sumber : koran-jakarta.com

Tanggal : 10 Juli 2017