"Loading..."

Kolaborasi Kementerian untuk Percepatan Aktualisasi Pariwisata Alam

mediaindonesia.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata untuk mempercepat aktualisasi destinasi pariwisata alam. Kolaborasi ini diwujudkan dalam penandatangan nota kesepahaman oleh Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam KLHK Tachrir Fathoni bersama dengan Deputi bidang Pengembangan Destinasi dan Pariwisata Kemenpar Dadang Rizky Ratman.

Penandatanganan nota kesepahaman ini dihadiri oleh Menteri Pariwisata, Ketua Yayasan Taman Nasional Dunia, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Dirut Perum Perhutani, perwakilan dari Bappenas dan Asosiasi Pariwisata Alam.

Mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Tachrir Fathoni mengatakan percepatan pengembangan destinasi berbasis alam di kawasan konservasi menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan target kunjungan wisatawan pada tahun 2019 sebesar 20 juta wisatawan mancanegara dan 275 juta wisatawan nusantara.

“KLHK akan mengembangkan wisata alam di 13 taman nasional dan satu taman wisata alam, yang terkoneksi pada 3 kluster, yaitu Lampung-Jawa, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat,” ujar Tachrir di Jakarta, (27/10).

Ke 14 destinasi wisata alam yang akan dibangun ini merupakan lokasi yang beririsan antara kawasan strategis pariwisata nasional dengan taman nasional, yaitu Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Kepulauan Seribu, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Bali Barat (Menjangan dan Pemuteran), Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Kelimutu, Taman Nasional Betung Kerihun, Taman Nasional Danau Sentarum, dan Wisata Alam Kawah Ijen.

Ruang lingkup kesepahaman ini meliputi peningkatan kualitas pengelolaan, pengembangan, dan pemasaran pariwisata di taman nasional dan taman wisata alam.
“Ini termasuk pengelolaan penentuan tarif masuk kawasan wisata taman nasional, dengan durasi tinggal. Tentu harga masyarakat lokal dan turis juga akan berbeda. Pendampingan para pengunjung juga diberikan untuk menjamin keselamatan mereka yang mendaki,” ujarnya.

Dijabarkan Tachrir, ada empat strategi yang harus ditempuh untuk menjadikan pariwisata alam sebagai sektor unggulan. Pertama menawarkan pelayanan dan kenyamanan pada pengunjung dengan tetap mengedepankan konservasinya, mengembangkan konektivitas lokasi destinasi, mendesain keunggulan destinasi wisata alam, dan melibatkan investor, masyarakat lokal dan civil society dalam pengembangan usaha jasa wisata alam.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan bahwa dibandingkan industri lain, pariwisata merupakan sektor industri yang ramah lingkungan. Diutarakannya, semakin dilestarikannya lingkungan, maka kesejahteraan orang-orang yang melakukannya akan meningkat.

“Untuk eko wisata ini, kami sepakati bahwa semakin dilestarikannya alam, maka semakin tinggi value yang didapat orang-orang yang melestarikannya. Kedua, dengan kerja sama ini, target kontribusi wisata berbasis hutan, taman wisata alam, dan taman nasional, dari kontribusinya hanya sebesar 2,5 persen menjadi 10 persen. Dari 500 ribu wisman saat ini, hingga mencapai 2 juta wisman pada 2019 nanti. Jadi naik empat kali lipat,” tukas Arief. (Q-1)

Sumber : mediaindonesia.com
Tanggal : 27 Oktober 2015