"Loading..."

Menciptakan Kader Penyuluh Kehutanan

Akibat jarak yang terlalu rapat, sekitar 1 meter, muncul penyakit tumor pada batang dan rantingnya sehingga mengakibatkan pertumbuhan pohon sengon miliknya berhenti.

HARI sudah menjelang siang, sekira pukul 11.00 WIB, tapi matahari belum juga tampak. Awan yang tebal siang itu membuat sinar mentari tak mampu menjangkau dataran lereng Merapi, tepatnya di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, pada akhir Agustus yang lalu.
Seorang perempuan paruh baya sibuk membersihkan rumputrumput liar di area kebunnya. Sesekali, ia juga mengambil beberapa ranting kering yang masih menempel di pohon atau sudah terjatuh di atas tanah untuk dibawa pulang. Kayu-kayu kering itu akan dimanfaatkannya sebagai kayu bakar untuk memasak sehari-hari.
Nyonya Tejo Wiyono, 56, nama perempuan itu. Bersama suaminya, perempuan tersebut tekun merawat tanaman sengon di ladangnya yang berada di kawasan lereng Merapi, tepatnya Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan.
Ia menceritakan lahannya tersebut pada akhir 2010 terkena dampak erupsi Gunung Merapi. Setelah erupsi, kini lahannya sudah kembali dipenuhi tanaman-tanaman kayu yang tinggi dan lebat. “Sudah dua tahun ini lahan di kawasan lereng Merapi pulih,” kata dia.
Pola tanam di setiap lahan di desa tersebut terlihat sama, yaitu tanaman-tanaman kayu ditanam dengan jarak yang tidak teratur.Di sela-sela tanaman kayu tersebut tumbuh berbagai jenis tanaman, seperti ketela pohon, kopi, ubi jalar, dan yang lain-lain.
Namun, sayang di tengah lahan yang terlihat hijau dan lebat, pohon sengon yang belum tinggi dan umurnya masih sekitar dua tahun sudah dipenuhi penyakit tumor atau karat puru yang menempel di batang dan ranting.
Penyakit tersebut tampaknya sudah lama karena karat purunya sudah mengering. Penyakit karat puru itu menyebabkan tanaman tidak bisa tinggi dan besar, sehingga warga hanya memanfaatkan sebagai kayu bakar.
Menurut dosen Fakultas Kehutanan UGM Eko Bhakti Haryanto, pohon-pohon tersebut harus segera ditebang. Setelah itu, bagian yang terkena karat puru harus segera dikubur dalam tanah atau dibakar agar tidak menjalar luas ke pohon-pohon sengon lainnya.
Eko menambahkan, penyakit karat puru tersebut menyerang pada tanaman sengon yang ditanam di tempat dengan ketinggian 300 meter ke atas, atau daerah-daerah yang sering tertutup kabut. Persebaran penyakit melalui spora. Penyebarannya cukup mudah terutama di daerah yang banyak kabut, seperti di lerenglereng gunung.
Spora dapat dengan mudah diterbangkan angin. Ketika menempel di daun atau batang pohon yang lokasinya berkabut, spora akan dengan mudah berkecambah dalam beberapa jam. Selain itu, penanaman pohon sengon yang terlalu rapat mempercepat penyebaran penyakit karat puru.
Pasalnya, jarak pohon yang terlalu rapat akan meningkatkan kelembapan. Ketika diberi tahu tentang jamur yang menyerang tersebut, Ny Tejo mengaku baru tahu tentang penyakit tersebut.Menurut dia, banyak pohon sengonnya terkena penyakit tersebut.
Pohon-pohon sengon ditanam dalam jarak dekat dengan alasan ekonomis. “Semakin banyak yang ditanam, semakin banyak yang bisa dipanen,” kata dia.
Namun, logika tersebut tidak tepat untuk tanaman sengon.Pasalnya, akibat jarak yang terlalu rapat, sekitar 1 meter, muncul penyakit tumor pada batang dan rantingnya sehingga mengakibatkan pertumbuhan pohon sengon miliknya berhenti.
Senada dengan Tejo Wiyono, petani hutan rakyat di Kabupaten Gunungkidul, Suratimin, mengakui cara penanaman pohon yang dilakukan petani hutan rakyat kebanyakan memang tidak teratur, berbeda dengan penanaman di Perhutani.
“Biar alam sendiri yang menyeleksi. Kalau pohon itu tidak bisa besar, ya akan dipangkas.Bisa untuk kayu bakar atau untuk membuat arang,” kata dia.
Memberi Pemahaman
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan DI Yogyakarta, Sutarto mengakui bahwa masih banyak petani yang tidak paham bagaimana menanam pohon yang baik. Menurutnya, masih banyak petani yang berpikir semakin banyak pohon yang ditanam di lahannya, panen kayunya akan banyak pula. “Masyarakat masih enggan melakukan penjarangan tanaman,” kata dia.
Padahal, jika tanaman ditanam dengan jarak yang terlalu dekat, pertumbuhan tidak bisa maksimal. Lebih dari itu, tanaman yang sudah mereka tanam bertahun-tahun bisa gagal dipanen dan hanya menjadi kayu bakar jika terkena penyakit.
Ia mengakui pengetahuan tentang penjarangan tanaman seharusnya sudah ditularkan kepada masyarakat melalui penyuluh kehutanan. Namun, hal tersebut tidak bisa dimaksimalkan karena tenaga penyuluh dari dinas kehutanan makin sedikit.
“Tenaga penyuluh dari dinas kehutanan sekarang ini terus berkurang, dari 150 orang tinggal 58 tenaga penyuluh,” ungkapnya.
Penurunan jumlah tenaga penyuluh tersebut disebabkan berbagai hal, antara lain pensiun hingga alih tugas tidak lagi menjadi penyuluh.
Dengan kondisi seperti itu, dinas kehutanan dan perkebunan telah mengembangkan sistem baru agar penyuluh tetap ada, bahkan lebih banyak. Pihaknya telah memberi pelatihan tentang kehutanan kepada perwakilan kelompok masyarakat agar terlahir penyuluh-penyuluh swadaya. (AT/N-4)
Sumber  : Media Indonesia
Tanggal  : 24 Desember 2014

Share:
[addtoany]