"Loading..."

Mencoba Masuk ke Pengolahan Pangan

Perum Perhutani sebagai pengelola sumber daya hutan di Pulau Jawa dan Madura merniliki peran strategis, yakni mendukung sistem pelestarian lingkungan, sistem sosial budaya, dan sistem perekonomian rnasyarakat perhutanan. Upaya menjaga kesinambungan fungsi sumber daya hutan senantiasa terus dilaksanakan, termasuk dalam aspek sosial dan ekonomi.
Seperti disampaikan Plt Direktur Utama Perum Perhutani Haryono Kusumo, dalam hal kelola sosial, utamanya kontribusi terhadap ketahanan pangan, pada 2010 tercatat 826.000 ton produksi bahan pangan yang terdiri dari berbagai jenis tanaman pangan. Dari proses itu, dapat diserap 676.000 tenaga kerja dalam berbagai bidang pekerjaan.
Untuk 2011, tambah dia, Perhutani diperkirakan bisa memberikan kontribusi bahan pangan sekitar 850.000 ton yang terdiri dari berbagai jenis bahan pangan. Mulai tahun ini Perhutani mencoba masuk ke industri pengolahan pangan alternatif (nonberas), yakni tepung ketela (mokaf), tepung jagung (malzena), dan tepung sorgum. “Dari total rencana investasi dan kegiatan penyediaan bahan pangan pada tahun 2011, diperkirakan bisa menyerap tenaga kerja sebesar 701.000 orang” katanya.
Menanggapi ungkapan Haryono, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar mengatakan upaya Perhutani meningkatkan tambahan pangan di Indonesia sekitar 850 ribu ton dengan menyerap kesempatan kerja bagi 701 ribu orang sangat kontributif. Itu sangat membantu dalam rangka percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi nasional.
“Peran Perhutani untuk mendukung ketahanan pangan kita, dengan tambahan 850 ribu ton pangan, itu sangat bagus. Tambahan pangan, yang bukan core business Perhutani itu merupakan sesuatu yang signifikan sekali bagi penguatan ketahanan pangan kita,” kata Mustafa pada rapat kerja Perum Perhutani 2011, peluncuran logo, dan peresmian assessment center, di Madiun, Selasa (1/3).
Kalau diikuti dengan pangan olahan dan produknya diolah dengan teknologi baru, ini akan menjadi kontribusi yang luar biasa dalam rangka kontri busi pangan di Tanah Air. Walau hanya tanaman sela, tanaman tumpang sari, kontribusi untuk diversifiksi pangan ini cukup signifikan.
Sementara itu, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan Perhutani memiliki lebih dari 5.300 desa binaan dan sekitar 5,4 juta keluarga di dalam dan sekitar hutan yang ikut terlibat di dalam Perhutani. Aset ini hendaknya menjadikan Perhutani memiliki arti strategis bagi pembangunan masyarakat desa hutan di Pulau Jawa dan Madura.
“Program prioritas pemerintah dimaksudkan agar kita semua memahami bahwa pembangunan kehutanan rnerupakan sesuatu yang sangat strategis, baik untuk kepentingan bangsa maupun global. Hutan Indonesia harus kita kelola secara lestari dan harus mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat desa hutan,” katanya.
Kementerian Kehutanan, tambah dia, terus melaksanakan pembangunan yang ramah lingkungan dengan peningkatan bidang kesejahteraan rakyat yang hidup di dalam dan sekitar hutan.
Keberpihakan pada masyarakat ini diwujudkan dalam bentuk pemberian akses legal kepada masyarakat sekitar hutan melalui izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu, hutan tanaman rakyat, hutan kemasyarakatan, hutan desa, dan hutan rakyat kemitraan.
Nama Media : KORAN JAKARTA
Tanggal : Selasa, 15 Maret 2011/h. 9
Penulis : Mar

Share:
[addtoany]