Menengok Pabrik Sagu Modern Rp. 112 Miliar Di Pedalaman Papua Barat

detik.com – Perum Perhutani hari ini meresmikan pabrik sagu modern berskala industri, yang berlokasi di Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat. Untuk mencapai lokasi pabrik ini tidaklah mudah, karena berada di pedalaman Papua.

detikFinance beserta rombongan berkesempatan untuk menyaksikan langsung pengoperasian perdana pabrik sagu ini. Namun, untuk mencapai lokasi, rombongan berangkat dari Ibukota Sorong Selatan, Teminambuan. Setelah menempuh perjalanan darat dari Kota Sorong, rombongan menuju Distrik (Kecamatan) Kais. Berangkat pukul 12.45 WIT, detikFinance bersama rombongan menggunakan 2 kendaraan, yakni Toyota Hilux dan Toyota Fortuner.

Awalnya, perjalanan melalui jalan utama Kota Teminambuan kemudian masuk melintasi jalan berbukit nan mulus, yang membelah perkampungan warga lokal dan warga Transmigrasi. Lokasi antar kampung memang berjauhan.

Sesekali, mobil harus berhenti atau memperlambat laju karena ada binatang milik warga, seperti anjing hingga ayam yang berada di daerah perkampungan.

Setelah 45 menit perjalanan, rombongan kemudian memasuki jalanan tak beraspal yang hanya dilapisi tanah kapur.

“Sekarang jalanannya mulai kurang bagus. Ini rencananya akan dibangun sampai Kais,” Kata Adhi, Salah Satu Driver yang Menemani Rombongan detikFinance dan Perhutani Menuju Kais, Sorong Selatan, Rabu (30/12/2015).

Awalnya, jalanan dari kapur yang membelah hutan perawan dan sesekali bertemu kampung penduduk itu masih relatif mulus.

Saat masuk, beberapa kali mobil harus menembus kubangan sisa lumpur yang mulai mengering. Untungnya, Adhi dan rekannya sudah terbiasa melewati jalur tersebut. Apalagi, kendaraan dengan cc mesin besar tersebut, telah dimodifikasi sehingga tak khawatir menembus pedalaman Sorong Selatan. Untungnya, hujan hanya turun sebentar dan tak besar.

“Kalau hujan deras, pasti kejebak karena jalanan berlumpur. Kalau benerin kendaraan bisa sampai Rp 1,5 juta. Sama kayak harga sewa kendaraan,” tambahnya.

Meski hujan tak berlangsung lama, cukup membuat jalanan becek dan banyak kubangan. Alhasil, kendaraan harus berjalan zig-zag meski tetap terkena lumpur. Akibatnya, badan kendaraan yang berwarna putih seperti terkena bedak alami namun terbuat dari lumpur.

Sesekali, Adhi bersama rekannya harus menata kembali tumpukan kayu yang dipakai sebagai alas jembatan darurat. Setelah terpasang rapi, mobil double cabin yang ditumpangi oleh detikFinance melaju perlahan. Usai melewati jembatan itu, Adhi tak langsung tancap gas. Ia mengintip rekannya dari kaca spion saat melewati jembatan darurat itu. Setelah berhasil, Adhi kembali menginjak gas.

“Teman saya itu, pernah hanyut di jembatan itu. Saat itu, mobil lewat namun bawah jembatan dalam kondisi banjir,” tambahnya.

Selama perjalanan, praktis hanya pemandangan hutan tropis yang menyapa tanpa gerak. Namun, sesekali detikFinance bertemu rombongan pembawa kayu di hutan lindung. Kayu gelondongan hingga kayu balok juga terhampar sepanjang jalan di area hutan lindung. Ada juga proses land clearing hutan untuk dijadikan kebun kelapa sawit.

Tak hanya itu, Adhi mengaku sepanjang jalan yang menembus hutan lebat Papua Barat ini masih banyak hewan, reptil dan burung eksotik khas Papua yang bisa ditemui, seperti Anaconda, Buaya, Rusa, Babi Hutan hingga Kasuari.

Saat di tengah hutan, salah satu rombongan kebelet ingin buang air kecil. Alhasil, Adhi mencari titik terang di tepi hutan karena kampung sangat jarang, apalagi tak ada rest area selama perjalanan.

“Kita berhenti di pertigaan jalan. Terus kalian yang mau buang air kecil pergi ke semak-semak,” ujar Adhi.

Tak terasa, rombongan akhirnya sampai di dermaga Distrik Kais pukul 15.20 WIT. Di sini, rombongan telah disambut oleh petugas distrik dan petugas keamanan dari unsur TNI/Polri.

Sekretaris Distrik Kais, Yosias Tumana, mengaku perjalanan menuju Pabrik Sagu modern milik Perhutani masih harus ditempuh memakai long boat menyusuri jalur sungai.

“Kapal sudah siap. Naik kapal cuma 10 menit saja menuju dermaga Pabrik Sagu Perhutani,” lanjut Yosias.

Setelah kapal siap, rombongan satu per satu masuk ke atas long boat. Kemudian petugas kapal menyalakan mesin membelah sungai di pedalaman Kais. Di dalam kapal, tampak Yosias ditemani seorang prajurit TNI mengawal sampai ke lokasi pabrik. Menurut Yosias, sungai yang dilalui sangat dalam bahkan masih banyak terdapat buaya liar.

Setelah 10 menit, rombongan tiba di bibir dermaga, Pabrik Sagu. Penduduk lokal yang dibantu petugas TNI dan Perhutani membantu menaikkan barang milik rombongan awak media.

Di area pabrik, para pekerja proyek yang dibantu anggota TNI tengah mempersiapkan 3 helipad, untuk pendaratan 3 helikopter Super Puma milik TNI AU. Rencananya, Presiden Joko Widodo akan meresmikan Pabrik Sagu modern milik BUMN yang menelan investasi Rp 112 miliar ini pada 1 Januari 2016.

Selain helipad, ratusan aparat TNI dan Polri telah bersiaga mengamankan kunjungan Presiden Jokowi ke pedalaman Papua itu.

Pabrik Sagu seluas 8 hektar ini rencananya mulai berproduksi ada 1 Januari 2016. Tahap awal, Pabrik Sagu mampu mengolah 3.000 tual atau potongan batang sagu berukuran 1 meter setiap harinya. Batang-batang sagu yang dipasok oleh warga lokal itu bisa menghasilkan tepung sagu kering 50 ton. Sedangkan, operasional maksimal baru dimulai 2016.

Kapasitas terpasang saat aktivitas maksimal ialah mampu mengolah 6.000 tual dan menghasilkan 100 ton tepung sagu per hari di 2017. Untuk menggerakkan mesin, Perhutani masih mengandalkan genset sambil menunggu rencana pembangunan power plant.

Pabrik sagu ini ditargetkan mampu menyerap ratusan pekerja lokal untuk memasok sagu hingga menjadi pekerja di pabrik.

Sumber : detik.com
Tanggal : 30 Desember 2015

Share:
[addtoany]