"Loading..."

Model "Silvofishery"

Kompas, Jakarta – Silvofishery pada dasarnya ialah perlindungan terhadap kawasan bakau dengan cara membuat tambak yang berbentuk saluran yang keduanya mampu bersimbiosis sehingga diperoleh kuntungan ekologis dan ekonomis karena mempertimbangkan kepedulian terhadap ekologi (ecologycal awareness).

Mengutip website djpb kkp, secara umum terdapat tiga model tambak silvofishery, yaitu model empang parit, komplangan, dan jalur. Selain itu, terdapat tambak sistem tanggul yang berkembang di masyarakat. Pada tambak silvofishery model empang parit, lahan untuk hutan bakau dan empang masih menjadi satu hamparan yang diatur oleh satu pintu air.

Pada tambak silvofishery model komplangan, lahan untuk hutan bakau dan empang terpisah dalam dua hamparan yang diatur oleh saluran air dengan dua pintu yang terpisah untuk hutan bakau dan empang. Sementara tambak silvofishery model jalur merupakan hasil modifikasi dari tambak silvofishery model empang parit. Pada tambak model ini terjadi penambahan saluran-saluran di bagian tengah yang berfungsi sebagai empang.

Pada tambak model tanggul, hutan bakau hanya terdapat di sekeliling tanggul. Tambak jenis ini berkembang di Kelurahan Gresik dan Kariangau Kodya Balikpapan. Berdasarkan tiga pola silvofishery dan pola yang berkembang di masyarakat, direkomendasikan pola silvofishery kombinasi empat parit dan tanggul.

Daerah yang telah mengaplikasikan model pengembangan silvofishery yakni Kabupaten Subang, Jawa Barat. Adalah Syamsuddin (45) yang saat ini menggawangi Koperasi Langgeng Jaya di Desa Langen Sari Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang yang kemudian menginisiasi pengembangan silvofishery di Subang khususnya di Desa Langen sari.

Menurut Syamsuddin, sejak 1990 sebenarnya silvofishery telah mulai diperkenalkan dan dikembangkan di Kabupaten Subang atas inisasi Perhutani yang kemudian mereka sebut dengan konsep Wanamina. Saat ini,, koperasi yang ia pimpin telah mampu menginisiasi dan mendorohg pengelolaan budi daya bandeng dan udang dengan konsep silvofishery tersebut. Menurut Syamsuddin, ada keuntungan ganda yang diperoleh dari penerapan konsep silvbfishery. Jika dibandingkan dengan teknologi intensif, budi daya dengan konsep ini lebih terjamin keberlanjutannya walaupun produktivitas jauh lebih kecil.

Kemudian daya dukung lahan lebih terjaga karena memegang prinsip ramah lingkungan. Selain itu, produk yang dihasilkan lebih aman karena tidak menggunakan pakan dan obat-obat kimiawi (organik). keuntungan lainnya adalah mampu menghasilkan usaha turunan, antara lain eco-wisata (wisata wanamina atau silvofishery) dan UMKM untuk pengolahan makanan dari buah bakau (keripik dan sirop). [ACH]

Kompas | 11 Oktober 2013 | Hal. 49

Share:
[addtoany]