"Loading..."

Mulai Uji Coba Penanaman Glagah

Radar Semarang, WONOSOBO — Setelah ditandatanganinya MoU penanaman glagah dengan KPH Kedu Utara dan LMDH Sumber Rejeki, pekan lalu, Dekranasda Wonosobo langsung bergerak cepat.

Kemarin (3/10) bersama petani di Desa Krinjing Kecamatan Watumalang melakukan penanaman perdana tanaman glagah di kawasan hutan Perhutani Bukit Sembrani. Proses penanam awal, menggunakan lahan sekitar satu hektare dengan jumlah kurang dari 5000 batang.

Tanaman yang masuk jenis alang-alang liar tersebut akan ditanam di lahan milik Perhutani. Ketua Dekranasda Kabupaten Wonosobo Aina Liza Kholiq Arif mengatakan, penanaman perdana ini menunjukkan keseriusan Dekranasda dalam membuka peluang pemanfaatan glagah untuk produk kerajinan sapu.

Dengan tersedianya bahan baku glagah, pihaknya akan segera melakukan pembinaan dan pelatihan kepada masyarakat Desa Krinjing. “Adanya keterlibatan unsur masyarakat Desa Krinjing dalam penanaman dan perawatan tanaman glagah, kami berharap akan ada lapangan kerja baru bagi penduduk setempat,”katanya.

Penanaman glagah di bawah tegakan tersebut, menurut Aina juga ditujukan untuk turut melestarikan hutan di lereng Bukit Sembrani. Sekaligus sebagai upaya optimalisasi nilai tambah dari pengelolaan sumber daya hutan bersama masyarakat (PHBM). Mudahnya pengelolaan tanaman glagah yang dapat mulai dipanen pada tahun pertama. “Kami akan menjaga kelangsungan stok bahan baku untuk produksi kerajinan sapu. Dari sisi nilai jual, glagah kering hasil panen dapat mencapai Rp 5000 per kilogram. Dengan diolah menjadi sapu, maka nilainya juga akan semakin meningkat,” tuturnya.

Kepala Seksi Pengelolaan Sumber Daya Alam KPH Kedu Utara, Soni mengatakan, jalinan kerja sama dengan Dekranasda dalam upaya pemanfaatan lahan Perhutani, tak sebatas 1 hektare saja. Apabila kelak memang menguntungkan dan tidak merusak lahan hutan, pihaknya membuka kesempatan untuk perluasan lahan. “Selain menguntungkan masyarakat, pemanfaatan lahan dengan skema kerja sama tersebut akan memudahkan perlindungan hutan,” imbuhnya.

Dari 6000 hektare lahan perhutani di Wonosobo, Soni menyebut sebagian besar sudah dikerjasamakan dengan berbagai pihak, untuk beragam keperluan yang memiliki potensi ekonomi yang menguntungkan. (ali/lis)

Radar Semarang | 04 Oktober 2013 | Hal.6

Share:
[addtoany]