"Loading..."

Pembangunan Pabrik Sagu Diharapkan Mempercepat Kedaulatan Pangan Papua

metrotvnews.com – Pabrik sagu di Distrik Kais, Sorong Selatan, Papua Barat, yang dibangun Perum Perhutani diharapkan mempercepat pembangunan di Papua dan Papua Barat, khususnya kedaulatan pangan berupa sagu.

Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar mengatakan, pembangunan sagu di Papua Barat ini merupakan tindak lanjut dari pemerintah melalui BUMN untuk percepatan pembangunan di tanah cenderawasih ini.

Selain itu, pembangunan pabrik ini juga diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional (engine of growth). Menurut Mustoha, program ini pun salah satu bagian dari tugas pemerintah, yang telah diamandatkan dalam Nawa Cita.

Sagu merupakan pohon asli Indonesia yang menjadi sumber karbohidrat yang utama. Sagu ini dapat dijadikan makanan yang menyehatkan, bieothanol, gula untuk industri makanan, minuman, pakan ternak, industri kertas, farmasi dan lain sebagainya.

Mustoha pun menilai, Indonesia sangat berpotensi menjadi produsen sagu terbesar di dunia. Pasalnya, mayoritas pohon sagu tumbuh kembang di tanah air ini.

“Tanaman sagu di Indonesia luasnya kurang lebih 1,4 juta Ha. Termasuk di Papua lebih kurang 1,2 juta Ha. Di Papua Barat diperkirakan luasnya 600 ribu Ha, dan Sorong Selatan sekitar 349 ribu Ha hutan sagu,” kata Mustoha dalam keterangannya, Jumat (1/1/2016).

Menurut dia, pohon sagu tumbuh secara alami. Untuk itu, jika tidak dimanfaatkan maka pohon tersebut pun akan mati dengan sendirinya. “Sehingga tepung sagunya terbuang percuma,” lanjut dia.

Mustoha menambahkan, pohon sagu yang mati tersebut dapat berpengaruh buruk terhadap regenerasi rumpun-rumpun sagu lantaran terjadi degradasi pohon. Sebab, tanaman yang mati ini akan menjadi racun bagi anakan pohon yang akan tumbuh selanjutnya.

Karena itu, pemanfaatan hutan sagu melalui industrialisasi merupakan keharusan agar sumber daya pati atau karbohidrat dapat digunakan secra berkelanjutan sesuai daya dukung alam. Sehingga, ekosistem sagu dapat berjalan dengan baik dan produktivitas sagu dapat meningkat.

“Kualitas pohon sagu Raja asal Papua bisa menghasilkam sagu hingga 900 kilogram per batang, berbeda dengan pohon sagu di barat Indonesia dan Malaysia yang menghasilkan tepung sagu maksimal 150 Kg sampai 250 Kg per batang,” jelas dia.

Harga jual sagu pun dinilai akan terus meningkat. Pada 2012, harga jual sagu sebesar Rp 5800 hingga Rp6.800 per kilogram. Pada 2015, harga meningkat menjadi Rp6.800 per kilogram.

Perum Perhutani juga akan mendapatkan Rp100 miliar per tahun dari penjualan sagu ini. Mereka akan menggunakan sekitar 40 pekerja di pabrik dan 400-500 pekerja di lahan hutan sagu.

Hari ini, Presiden Joko Widodo meninjau pengoperasian pabrik sagu milik Perum Perhutani yang dibangun di Distrik Kais, Sorong Selatan, Papua Barat. Pabrik terbesar di Indonesia inipun telah resmi beroperasi 1 Januari 2016 ini.

Pabrik yang dibangun di atas lahan seluas 8 hektar ini mampu menolah bahan mentah sagu hingga 100 ton per hari atau 6.000 tual per hari. Namun, pengoperasian penuh baru akan dilakukan 2017 mendatang.

Tahun 2016 ini, pabrik hanya akan mengolah sagu sebanyak 50 ton per hari atau setengah dari total kapasitas. Sebab, saat ini mesin pengolahannya masih dalam tahapan commissioning.

Untuk sagu mentahnya, Perum Perhutani akan membeli per batang sagu seharga Rp9.000 per tual tergantung kualitasnya. Lalu, Perum Perhutani akan mengolahnya menjadi tepung sagu.

Hasilnya pengolahan ini nantinya akan dipasarkan di Papua, Jakarta, Cirebon, Semarang Surabaya, dan Medan. Sedangkan, target luar negeri akan dipasarkan di Jepang, Korea, Thailand dan China.

Sumber : metrotvnews.com
Tanggal : 2 Januari 2016

Share:
[addtoany]