"Loading..."

Perhutani bangun pabrik sagu di Papua

ANTARA News, Jakarta – Perum Perhutani akan membangun pabrik sagu, di Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat, dengan investasi sebesar Rp120 miliar.

“Proses pemancangan tiang pertama kontruksi pabrik sagu ini rencananya dimulai Oktober 2013. Selanjutnya ditargetkan mulai beroperasi sekitar Oktober 2014,” kata Direktur Utama Perhutani Bambang Sukmananto, dalam siaran pers yang diterima ANTARA, di Jakarta, Jumat.

Pada kesempatan itu Menteri BUMN Dahlan Iskan melihat secara langsung persiapan pembangunan pabrik bahan makanan yang dalam bahasa Latin disebut dengan “metroxylon sago” ini.

Menurut Sukmananto, saat ini persiapan pembangunan pabrik sagu terbesar di Papua itu sedang dilakukan yang dimulai dengan pemerataan permukaan tanah dengan peralatan berat.

Saat beroperasi penuh nanti, kapasitas produksi pabrik sagu ini mencapai 30.000 ton tepung per tahun.

Perhutani memperoleh konsesi lahan untuk tanaman pohon sagu mencapai 16.000 hektar di sekitar lokasi pabrik.

“Kita sudah dapat izin areal konsesi lahan sekitar 16.000 hektare,” ujarnya.

Untuk pembangunan pabrik ini Perhutani menggandeng BUMN seperti PT PLN, dan PT Barata.

PLN akan membangun “power plant” atau pembangkit untuk memasok listrik sedangkan Barata menyelesaikan konstruksi bangunan pabrik sagu.

“Ini proyek Merah Putih. Karena biayanya mahal maka BUMN turun tangan. Perusahaan tidak boleh rugi,” kata Sukmananto.

Listrik dari pembangkit milik PLN nantinya juga dijual secara komersial. Sedangkan bahan baku power plant diambil dari kulit pohon sagu.

Terkait pembiayaan pabrik Perhutani mengucurkan dana mencapai Rp120 miliar.

Sebesar 30 persen akan didanai dari modal sendiri, sisanya 70 persen dibiayai dari pinjaman perbankan.

“Pembangun pabrik berkisar Rp120 miliar, itu di luar power plant yang dibangun sendiri oleh PLN,” ujarnya.

Pembangunan pabrik sagu ini merupakan salah satu strategi BUMN menjaga ketahanan pangan nasional.

Nantinya pabrik sagu ini bakal memproduksi tepung sagu dan produk turunan, yang dipasarkan di Papua dan ke seluruh Indonesia.

“Potensi tanaman sagu di Papua mencapai sekitar 1,2 juta. Belum dimanfaatkan secara maksimal,” katanya.

Jurnalis : Royke Sinaga | Editor: Ella Syafputri
Antaranews.com | Jum’at, 27 September 20013 | 10.38 WIB