"Loading..."

Perhutani Bondowoso Resmikan Gedung Klabang JPP

kecilHARIANBHIRAWA.CO.ID (15/1/2017) | Guna untuk mencukupi kebutuhan stock bibit pohon, KPH Perhutani Bondowoso meresmikan gedung Klabang Jati Plus Perhutani Plantation (KJP and Camping Ground) Sabtu pagi kemarin (15/1). Hadir diantaranya Administratur KPH Perhutani Bondowoso Adi Winarno, Waka Moh Ajieb dan Faisal serta sejumlah Kepala Seksi, Asper dan para mantri.

Dari peresmian ini KPH Bondowoso membuat bibit jati plus Perhutani (JPP) sebanyak 10 ribu pohon. Persemaian gedung Klabang JPP ini juga untuk mendukung program penghijauan dan menanam di Kabupaten Situbondo dan Bondowoso.

Administratur KPH Perhutani Bondowoso, Adi Winarno, melalui Wakil Administratur Moh Ajib mengatakan, peresmian gedung Klabang Jati Plus Perhutani Plantation (KJP and Camping Ground) sudah direncanakan sejak lama karena gedung tidak berfungsi.

Nah, aku Moh Ajib, Administratur menunjuk dirinya untuk merecovery dan memfungsikan kembali kawasan persemaian tersebut. “Mulai dari sarpras instalasi air, mesin penyedot air, tandon, gedung kantor, pembersihan blok s/d pemangkasann kebun pangkas JPP dan elemen lain langsung dilakukan,” aku Moh Ajib.

Ajib mengungkapkan, JPP (Jati Plus Perhutani) adalah jati unggul produk Perhutani yang diperoleh dari program pemuliaan pohon. JPP ini, kata dia, lalu dikembangkan melalui dua cara perbanyakan yaitu vegetatif (stek pucuk dan kultur jaringan) dan generatif dengan menggunakan biji JPP asal kebun benih klonal (KBK).

Selanjutnya, sambung dia, memakai program PHT I dan PHT II yang merupakan program dua klon unggulan hasil pemuliaan pohon Perhutani yang telah mendapatkan hak PVT dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman Departemen Pertanian pada tahun 2009. “Penjualan JPP saat ini berbentuk biji JPP yang berasal dari sumber benih KBK serta semai JPP yang berasal dari perbanyakan secara generatif,” terang Ajib.

JPP ini, urai Ajib, memiliki banyak keunggulan diantaranya adaptif di berbagai tempat dan tumbuh karena berasal dari proses seleksi sangat ketat. JPP ini juga tumbuh lebih cepat dari jati biasa, ujar dia, baik di lahan kurus maupun lahan subur serta memiliki tingkat keseragaman tinggi, batang lusus dan silindris.

Di sisi lain, tegas Ajib, JPP tersebut tumbuh optimal di lahan dengan ketinggian s/d 600 meter dpl curah hujan per tahun 1500 – 2500 mm dengan temperatur siang 27 C – 36 C, malam 20 – 30 . “JPP itu tidak akan tumbuh di lahan becek/tergenang air, rawa, gambut dan padang pasir,” urai Ajib.

Ajib juga menuturkan, untuk waktu penanaman yang tepat yaitu dilakukan pada Oktober-Januari dengan lubang tanam ukuran 40 x 40 x 30 cm dengan dibuat sebelum ditanam serta menggunakan pupuk dasar/pupuk kandang 3 kg per lobang.

Selanjutnya, papar Ajib, satu bulan setelah tanam dipupuk Urea 50 gr dan khusus pada tanah asam perlu ditambah kapur pertanian 50 – 100 gr per lubang. “JPP ini ditanam tegak lurus dan ditimbun dengan tanah bekas galian lubang yang telah diremahkan. Selanjutnya dibuatkan piringan dangir yang sedikit cembung dengan mengelilingi tanaman garis tengah 75 cm,” papar Ajib.

Agar JPP tumbuh bagus, terang Ajib, diperlukan perlakukan khusus untuk pemupukan pada tahun I yang dilakukan mulai Pebruari dan Nopember masing-masing sebanyak 50 gram Urea. Untuk pemupukan tahun II dan III dilakukan bulan Pebruari dan Nopember masing-masing sebanyak 100 gram urea.

Lalu untuk pemupukan tahun IV dan V, aku Ajib, dilakukan pada bulan Pebruari dan Nopember masing-masing sebanyak 100 gram urea. “Saya minta hindarkan JPP dari persaingan gulma. Untuk itu memberantas gulma ini dilakukan 2 kali setahun sebelum pemupukan. Setelah itu wiwil tunas samping dilakukan untuk menjaga kualitas kayu agar menjadi kualitas terbaik,” pungkas Ajib. [awi]

Sumber: harianbhirawa.co.id

Tanggal: 15 Januari 2017