"Loading..."

Perhutani Ekspor Perdana Getah Pinus ke India

IMQ, Jakarta — Perum Perhutani mulai mengekspor perdana 13,6 ton produk ?-Pinene (Alphapinene) ke India.

Saat ini, kebutuhan pasar Alphapinene dan Bethapinene di dunia mencapai 600.000 ton per tahun, sedangkan dalam negeri mencapai 19.000 ton per tahun.

Menurut Direktur Utama Perhutani Bambang Sukmananto, dengan bahan baku getah pinus yang ada, ditunjang oleh pengolahan hingga derivat, maka Perhutani akan menjadi pelaku bisnis industri pine chemical penting di dunia.

a-Pinene diproduksi oleh Perhutani Pine Chimical Industry (PPCI), pabrik baru Perhutani di Pemalang. PPCI diharapkan dapat berproduksi sesuai kapasitas produksi terpasang sehingga nilai tambahnya maksimal.

“Sebagai urutan ketiga produsen derivat gondorukem dan terpentin di dunia, Perhutani baru menembus 10%, sedangkan China lebih dari 70% dan Brazil mencapai 11%,” kata Bambang melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (22/4).

Dari nilai investasi sebesar Rp208,7 miliar, akan dihasilkan nilai tambah derivat gondorukem sebesar 20%-30% dan derivat terpentin 50%-60%. Sementara itu, harga produk berkisar US$2.000 sampai dengan US$4.000 dan bahkan US$15.000 per ton.

Luas hutan yang dikelola Perhutani di Jawa mencapai 2.4 juta hektar, terdiri dari hutan jati 1.261.465,81 Ha (52%), hutan pinus 876.992,66 Ha (36%) dan sisanya damar, mahoni, akacia, sengon dan kesambi.

Pohon pinus yang disadap menghasilkan getah pinus. Getah pinus ini diolah di pabrik melalui proses melting, scrubber dan pemasakan menghasilkan produk gondorukem atau gum rosin dan terpentin.

Proses lanjutan destilasi terpentin akan menghasilkan produk turunan ?-Pinene (Alphapinene), Bethapinene, D-limonen, D-carene. Sedangkan proses lanjutan produk gum rosin melalui easterifikasi dan flacking menghasilkan Glycerol dan Rosin Ester.

PPCI di Pemalang mempunyai kapasitas bahan baku feed stock 24.500 ton per tahun getah pinus. Kapasitas produksi terpasang gondorukem (gumrosin) 17.150 ton per tahun, turpentin 3.675 ton per tahun, Alphapinene 6.000 ton per tahun, Betapinene 112,5 ton per tahun, Gliserol Rosin Ester 18.000 ton per tahun, terpineol 1800 ton per tahun.

Pabrik Perhutani ini adalah pabrik derivat terpadu terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Menempati lahan 6,3 Ha dengan bangunan seluas 2,5 Ha, PPCI didukung oleh 80 tenaga kerja langsung.

“Dengan beroperasinya pabrik baru ini dipastikan akan memberikan dampak sosial ekonomi positif bagi masyarakat sekitar pabrik khususnya dan Kabupaten Pemalang umumnya,” ungkapnya.
Author: Susan Silaban

Sumber : www.imq21.com
Tanggal : 22 April 2014