"Loading..."

Perhutani genjot bisnis nonkayu

Pendapatan Perum Perhutani Jawa Barat Banten dari bisnis nonkayu mulai dominan dibandingkan dengan produk kayu sejak setahun terakhir. Kepala Unit Perhutani Jabar Banten Bambang Setiabudi mengatakan bisnis nonkayu menyumbang 55%-60% terhadap total laba tahun lalu. Terdapat tiga produk nonkayu a.l. getah pinus, wisata alam, dan produk agro forestry seperti kopi dan teh.

“Getah pinus menjadi primadona karena mampu menyumbang laba 30% sampai 35% pada tahun lalu sehingga pertumbuhan dari bisnis nonkayu ditargetkan naik 10% pada tahun ini,“ katanya kemarin. Dia menjelaskan getah pinus menghasilkan dua produk penting yaitu terpentin dan gondorukem (gum rosin) yang banyak dimanfaatkan industri kosmetik, kimia, dan pangan.

Produk unggulan itu, ujarnya, dipasok 12 kesatuan pemangku hutan (KPH) dari 14 KPH yang ada di Perhutani Jabar. “Banten dan Indramayu tidak memasok,“ katanya. Tahun lalu, produksi terpentin Perhutani Jabar-Banten mencapai 70.000 ton, sedangkan untuk produksi gum rosin mencapai 20.000 ton.

“Tahun ini, kami merencanakan membangun satu pabrik pengolahan getah pinus dengan kapasitas yang lebih kecil di Sukabumi,“ kata Bambang. Perhutani baru memiliki satu pabrik pengolahan gondorukem di Sindangwangi, Bandung, dengan kapasitas 12.000 ton.

“Turunan getah pinus ini banyak, bisa buat industri tinta, ban, lem, jadi harus kita kembangkan terus. Dari usaha ini, Perhutani sudah bisa mempekerjakan sekitar 5.000 warga di sejumlah daerah,“ tuturnya. Dia menambahkan dari sektor wisata alam, Perhutani menggaet pendapatan sebesar Rp34 miliar pada tahun lalu. Adapun, tahun ini bisnis wisata alam diproyeksikan tumbuh mencepai dua kali lipat menjadi di atas Rp60 miliar.

“Wisata alam ini juga bakal jadi andalan ke depan, karena Jawa Barat akan mengarah menjadi green province sehingga eco tourism akan memiliki peluang besar untuk dikembangkan,“ katanya. Perhutani, lanjutnya, memiliki ratusan potensi wisata alam dan baru 30 lokasi yang dipetakan menjadi andalan pemasukan di antaranya klaster Cekungan Bandung Raya, Kawah Putih Ciwidey, Cibolang, Cimanggu, Blanakan, Cilember.

Namun demikian, Perhutani tetap menggenjot lini utama usahanya di bisnis kayu, karena masih banyak nilai tambah yang akan dikejar. Sejak 2 tahun lalu, lanjutnya, pengembangan industri pengolahan kayu terus dilakukan seperti di Warung Panjang, Sukabumi. “Dulu kami jual gelon dongan, rebutan dengan masyarakat. Tapi, kami malah dilaporkan,“ paparnya.

Di sisi lain, tambahnya, strategi penjualan kayu olahan itu harus dijaga agar tidak mematikan pengolahan kayu lokal, a.l pabrik pengolahan kayu milik Perhutani tetap mempekerjakan tenaga penggergaji lokal. “Kami tidak membangun pabrik, tetapi memanfatkan potensi masyarakat yang ada,“ kata Bambang.

Saat ini, Perhutani Jabar Banten mengelola area hutan seluas 678.000 hektare yang meliputi hutan di kawasan Jabar Banten dengan jenis hutan yang dikelola adalah hutan lindung dan produksi.

BISNIS INDONESIA :: 17 Februari 2012, Hal i6

Share:
[addtoany]