"Loading..."

Perhutani Perkuat Industri Hilir

JAWA POS, JAKARTA – Perum Perhutani berupaya meningkatkan nilai tambah bisnisnya dengan memperkuat sektor hilir produk hutan. Perusahaan negara yang mengelola 2,4 juta lahan hutan itu bakal membangun pabrik derivatif gondorukem alias getah pinus dan terpentin di Pemalang, Jawa Tengah.

Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto mengatakan, pabrik yang bakal diresmikan akhir Oktober tersebut menelan investasi Rp 190 miliar. Di antara dana tersebut, 70 persen diperoleh dari pin­jaman bank dan sisanya ditarik dari kas internal. ”Selama ini kan kami hanya memproduksi gondorukem dan terpentin. Tapi, dengan adanya pabrik ini, kami bisa memproduksi produk turunan yang lebih menjanjikan,” jelasnya.

Produk-produk turunan gondorukem dan terpentin bisa dimanfaatkan untuk berbagai industri. Dia menjelaskan, dua komoditas tersebut bisa diolah menjadi produk bahan kimia seperti glicerol rosin ester, alpha pinene, betha pinene, delta limonen, cineol, atau alpha terpineol. ”Bahan kimia ramah lingkungan itu digunakan sebagai bahan baku bagi industri makanan dan minuman, produk adhesive, kertas, cat dan tinta, parfum, dan farmasi. Kapasitas pabrik sekitar 24,5 ribu ton per tahun akan menjadi yang terbesar se-Asia Tenggara,” tambahnya.

Bambang mengatakan, rencana tersebut merupakan langkah tepat memasuki industri hilir. Sebab, gondorukem memang salah satu produk andalan Perhutani. Getah pinus itu menghasilkan pendapatan terbesar kedua setelah penjualan kayu log. ”Ekspor untuk produk gondorukem ini melonjak 12 persen dari target RKAP (rencana kerja dan anggaran perusahaan, Red),” ungkapnya.

Kinerja keuangan Perhutani sudah lumayan. Hingga semester I 2013, perseroan meraup laba bersih Rp 465,12 miliar. Capaian itu naik 238 persen dari RKAP yang ditetapkan sebelumnya. Laba tersebut diraup dari pendapatan perusahaan semester pertama Rp 1,773 triliun. ”Sedangkan, pendapatan perusahaan sampai dengan Agustus 2013 tercatat Rp 2,373 triliun,” terangnya.

Dia tidak menampik bahwa pendorong terbesar pendapatan tersebut masih ditopang hasil penjualan kayu. Dia memerinci, penjualan kayu bundar dalam negeri Rp 1,139 triliun. Penjualan kayu olahan di dalam negeri mencapai Rp 54,69 miliar. (bil/c6/sof)

Jawa Pos | 10 Oktober 2013 | Hal. 6

Share:
[addtoany]