Pesan Nasionalisme Dari Dalam Gua Putri Asih

SEPUTARTUBAN.COM, TUBAN, (18/8/2016) | Lokasi wisata Gua Putri Asih, Rabu (17/8/2016) siang nampak berbeda dari biasanya. Ratusan orang dari berbagai kalangan berkumpul di ruang 2 gua yang sudah dibuka menjadi tempat wisata tersebut. Mereka bersama melaksanakan upacara bendera memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 71 bersama 3 pimpinan daerah Kabupaten Tuban.
Suasana semakin terasa istimewa karena berbeda dengan upacara pada umumnya. Ruang gua yang luas disertai dengan kondisi bebatuan gua yang alami dan menakjubkan membuat peserta akan terasa hikmat dan larut dalam sauasana upacara. Selain itu juga semakin kuatnya rasa dan bukti kebesaran kekuasaan Tuhan, karena keindahan gua dipelupuk mata.
Dandim 0811 Tuban, Letkol Inf. Sarwo Supriyo bertindak sebagai Irup, dalam amanatnya menyampaikan bahwa kemerdekaan RI bukan hadiah dari para penjajah. Melainkan sebuah upaya yang mengorbankan nyawa, harta dan benda dengan modal persatuan dalam kebhinekaan masyarakat.
Bukan waktu yang singkat dan bukan hal yang mudah dalam merebut kemerdekaan. Kesungguhan, ketulusan dengan rasa nasionalisme tinggi dan rahmat dari Allah SWT yang mampu menjadikan negara ini Merdeka.
“Salah satu contoh yang dilakukan pahlawan kita, Letda Sucipto. Putra kelahiran Tuban itu bersama pasukanya dan masyarakat mampu menyampaikan pesan kepada Indonesia dan dunia. Di Desa Tapen, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, bersama masyarakat rela berkoban nyawa untuk mempertahankan Kemerdekaan RI dengan bertempur melawan tentara KNIL dari Belanda,” katanya.
Dandim berharap persatuan masyarakat seperti yang terjadi saat upacara dapat dijalankan dalam keseharian. “Kita semua harus tetap bersatu dalam segala situasi. Tetap bersatu dalam kebhinekaan dan tetap bersatu dalam keseharian. Perbedaan sebenarnya adalah anugrah namun dapat berubah menjadi bencana atau musibah jika kita yang membeda-bedakanya,” tegasnya.
Dalam upacara tersebut hadir Adm Perhutani KPH Parengan, Daniel Budi Cahyono beserta jajaranya. Muspika Kecamatan Montong beserta istri, mahasiswa, Ketua Asosiasi Kepala Desa (Kades), Kades Nguluhan dan Guwoterus, Pengurus dan Anggota Koperasi Wono Asih, Pengurus LMDH Sumberjati, Mahasiswa STITMA Tuban, komunitas trail, komunitas vespa Tuban, perwakilan 4 perguruan silat, lintas tokoh pemuda dan masyarakat serta pedagang wisata.
Ketua Koperasi Wono Asih, Cipnal Muchlip M mengatakan pihaknya bersama Perhutani KPH Parengan merancang kegiatan itu untuk menguatkan nilai nasionalisme dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa ditengah masyarakat. Dengan langsung berada didalam Gua, salah satu bukti nyata kekuasaan Tuhan.
Keberagaman menjadi satu dalam ruang gua dan menggelorakan nasionalisme. Meski dari latar belakang status sosial dan pendidikan serta lintas komunitas, mereka tetap bersatu dengan kebersamaan. “Ini wujud nyata persatuan kita, ini pesan moral dan sosial kepada siapa saja yang mau melihat dan mendengarnya. Bahkan Kebhinekaan itu akan lebih menguatkan jika tidak dibeda-bedakan,” jelasnya.
Masyarakat sangat termotivasi dan bangga dengan pimpinan daerah yang hadir. Karena tidak segan membaur langsung dengan masyarakat dan sudah berupaya hadir dan mengikuti upacara bersama istri. “Pimpinan Daerah seperti ini termasuk pimpinan Perhutani KPH Parengan yang dapat menginspirasi masyarakat. Semoga dampak positif ini sebanding lurus dengan nasionalisme dan kesadaran pentingnya kebersamaan ditengah masyarakat,” pungkasnya.
 
Tanggal : 18 Agustus 2016
Sumber : seputartuban.com

Share:
[addtoany]