"Loading..."

Petani Lebak Diminta Tingkatkan Produktivitas Jagung

ANTARANEWS.COM (14/11/2018) | Petani Kabupaten Lebak, Provinsi Banten diminta meningkatkan produktivitas jagung mencapai delapan ton per hektare dengan menerapkan teknologi.
“Kami yakin pendapatan ekonomi petani meningkat jika produktivitas jagung mencapai delapan ton per hektre,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Lebak, Rabu.
Selama ini, produktivitas jagung di Kabupaten Lebak relatif kecil berkisar antara tiga sampai empat ton per hektare.
Produktivitas sebanyak itu tentu tidak menguntungkan pendapatan ekonomi petani.
Pemerintah daerah mendorong petani agar meningkatkan produktivitas jagung hingga delapan ton per hektare melalui penerapan teknologi.
Penerapan teknologi itu,mereka petani menggunakan benih yang bersertifikat juga pemupukan imbang antara organik dan non organik.
Apabila, produktivitas jagung tercapai delapan ton dipastikan pendapatan petani sebesar Rp24 juta per hektare dengan harga jagung pipilan Rp3.000/Kg.
“Kami tidak bisa membayangkan jika pendapatan petani Rp24 juta per hektare maka kehidupan mereka lebih sejahtera,” katanya menjelaskan.
Dede mengatakan, saat ini, target penanaman jagung di Kabupaten Lebak tercapai dengan menerima bantuan seluas 27.000 hektare melalui bantuan program upaya khusus (upsus) jagung, padi dan kedelai (pajale) dari Kementerian Pertanian (Kementan).
Mereka petani menanam jagung di lahan-lahan kosong juga lahan persawahan.
Kabupaten Lebak sangat berpotensi menjadikan daerah lumbung jagung,sehingga Kementan terus menyalurkan bantuan benih dan pupuk.

“Kami yakin ke depan Lebak sebagai daerah lumbung jagung dan bisa memenuhi permintaan masyarakat DKI Jakarta,” katanya.
Berdasarkan pemantauan di lapangan saat ini, jagung hibrida yang ditanam petani tumbuh begitu subur dan hijau.
Bahkan, petani Desa Bulakan Kecamatan Gunungkencana ahir pekan lalu mengembangkan tanaman jagung seluas 1.000 hektare.
“Kami menanam jagung itu di lahan milik Perum Perhutani dengan cara tumpang sari,” kata Yanto, seorang anggota Kelompok Tani di Kecamatan Gunungkencana.

Sumber : antaranews.com

Tanggal : 14 November 2018