Peternak Madu Bidik Ekspor

Kelompok peternak madu membidik pasar ekspor, mengingat potensi produksi yang melimpah.

Asosiasi Perlebahan Indonesia mencatat Indonesia memiliki sembilan dari 11 spesies lebah terbaik di dunia. Namun, keinginan para peternak mengekspor madu lebah terkendala oleh minimnya pakan, padahal ketersediaan cukup memadai.

Ketua Asosiasi Perlebahan Indonesia Mustoha Iskandar berharap pemerintah membantu peternak madu untuk mengoptimalkan berbagai cara agar tersedia pakan yang cukup untuk lebah sehingga produksi madu bisa maksimal.

‘Apabila peternakan madu sudah optimal, maka tidak ada alasan lagi kita mengimpor madu. Tapi, justru kita yang mengekspor,” kata Mustoha yang juga Direktur Perum Perhutani, Minggu (6/12).

Menurutnya, pertumbuhan tanaman sebagai makanan lebah seperti nektar sebenar nya hanya membutuhkan dua tahun untuk tumbuh di mana kawasan hutan menjadi tempat yang paling memungkinkan untuk dijadikan tempat pengembangan pakan lebah.

Oleh karena itu, keluhan petani soal pakan lebah seharusnya tidak menjadi kendala apabila mereka memahami soal tata cara menyiapkan pakan.

“Kualitas madu lebah Indonesia sudah diakui di mancanegara, hanya belum serius penanganannya.
Dalam setahun, produksi madu lebah yang dibudidayakan Perhutani termasuk dengan warga sekitar hutan rata-rata 150 ton/tahun.

‘Apabila masalah pakan sudah tertangani dengan baik, angkanya bisa meningkat hingga 500 ton/ tahun,” katanya.

Saat ini, jumlah petani hutan lebah mencapai 5.300 LMDH di seluruh pulau Jawa dan Madura. Karena banyaknya petani tersebut, pihaknya merasa tidak kesulitan dalam memenuhi permintaan ekspor, kecuali masalah pakan.

Anggota Dewan Pakar Lebah Madu Indonesia JSA Linier kabel mengatakan, permasalahan petani lebah madu di kawasan Indonesia timur terletak pada kurangnya pakan.

“Masalah pakan lebah ini harus diperhatikan termasuk untuk pengembangannya di kawasan Indonesia timur,”ujarnya.

Pihaknya optimistis per-lebalian di Indonesia timur bisa berkembang pesat bila produksi pakan lebah benar -benar ditingkatkan sehingga target produksi yang diharapkan bisa tercapai.

Lies Baliunta selaku Karo Bisnis Wisata dan Agribisnis Perhutani menam bahkan, madu dapat dijadikan sebagai komoditas unggulan Indonesia dalam menghadapi MEA.

Terlebih, madu sekarang telah menjadi bahan domestik yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga balikan sejak zaman Mesir kuno dan biasanya dihargai dengan sangat mahal.

Tanggal : 8 Desember 2015
Sumber : Bisnis Indonesia

Share:
[addtoany]