"Loading..."

Plesir Unik, Panen Padi di Tengah Hutan

Kamis, 5 Maret 2015 | 18:28 WIB
Oleh : Lesthia Kertopati, Dwi Royanto (Semarang)

VIVA co.id – Memanen padi secara tradisional di sawah mungkin sudah menjadi tradisi bagi para petani di Indonesia. Namun, panen yang satu ini unik. Panen padi bisa dilakukan di tengah hutan langsung bersama para petani penggarap.

Ya, panen padi tengah hutan ini mungkin bisa Anda lakukan di Banyumas, Jawa Tengah. Tepatnya di Desa Pekuncen, Kecamatan, Jatilawang, Banyumas. Di daerah itu, ada sistem tanam padi unik yang merupakan inovasi Pemerintah Provinsi Jateng. Bekerja sama dengan Perhutani dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, petani padi bisa menanam padi di tanah area hutan.

Berada di area hutan milik Perhutani seluas 44 hektare, hutan itu dulunya dipenuhi pohon akasia. Namun, kini tersulap menjadi areal pertanian dengan tanaman padi sebagai tanaman utama. Di samping itu, pohon pinus kecil tampak di area pertanian tersebut.

Konsep pertanian di wilayah perbatasan Banyumas-Cilacap itu diberi nama Integrate Farming System. Sistem itu telah dimulai sejak 2014. Para petani penggarap diberikan keuntungan untuk menggarap tanah Perhutani itu secara gratis. Karena berada di lahan hutan, sistem pengairan yang dipakai adalah dengan model tadah hujan.

Menggunakan bibit padi khusus berjenis Inpago 5 dan Situbagendit, hasil tanam padi tengah hutan yang dimulai sejak November 2015 itu kini telah memasuki panen raya.

Panen raya perdana bahkan dihadiri langsung Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Dirut Perum Perhutani, Mustoha Iskandar, Bupati Banyumas Achmad Husein dan perwakilan Rektor UGM Yogyakarta.

Di sela panen raya itu, Ganjar mengatakan, cara bercocok tanam di Banyumas tersebut terbilang menjadi inovasi baru di Jateng. Apalagi, lahan pertanian milik Perhutani memang telah disiapkan untuk program Integrate Farming System di lahan hutan.

“Kalau soal ilmu pengetahuan, perguruan tinggi kan siap. Secara lahan Perhutani punya. Maka semua lahan Perhutani bisa dimanfaatkan masyarakat,” kata Ganjar di sela panen raya di Banyumas, Kamis 5 Maret 2015.

Adapun hasil pertanian model baru itu dianggap cukup memuaskan. Dalam satu hektare lahan pertanian hutan akan menghasilkan 5-6 ton gabah dalam sekali panen.

Untuk tahun ini, hasil pangan Jateng telah mencapai angka 11,6 ton. Jumlah itu bahkan lebih banyak 2,85 ton dari target yang ditentukan. “Jadi, dengan ini, semoga target peningkatkan produksi bisa tercapai,” ujar dia.

Wanto (40), salah seorang petani penggarap mengaku senang dengan program tanam padi di lahan hutan milik Perhutani itu. Selain mudah, sistem ini juga akan membantu masyarakat kecil yang tidak memiliki lahan.

“Kami boleh menggarap lahan. Saya menanam kayu dan padi di lahan hutan. Kayunya milik Perhutani, tapi padinya sepenuhnya milik saya,” ujar bapak dua anak itu.

Tidak hanya bagi petani, konsep unik ini juga bisa dikunjungi masyarakat. Selain melakukan treking menyusuri hutan, wisatawan juga bisa merasakan bagaimana serunya panen raya di sawah yang berlokasi di tengah hutan.

Sumber : viva.co.id
Tanggal : 5 Maret 2015

Share:
[addtoany]