"Loading..."

Produksi Susah, Harga Gondorukem Perhutani Naik

Kontan, JAKARTA – Gondorukem benar-benar membuat kantong Perum Perhutani makin tebal. Betapa tidak. Harga jual gondorukem milik BUMN kehutanan tersebut naik 25,39% di Oktober ini. Bambang Sukmananto, Direktur Utama Perhutani mengatakan, sebelumnya, harga jual gondorukem sebesar US$ 1.575 per ton.

Namun mulai bulan Oktober 2013 ini, harga jualnya melonjak naik sangat tinggi hingga menjadi US$ 1.975 per ton. “Harga gondorukem cukup bagus. Bulan ini Perhutani menaikkan harga US$ 400,” ujar Bambang kepada KONTAN, Kamis (17/10). Sayang produksi tidak bagus. Cuaca buruk tahun ini menyebabkan petani mitra Perhutani kesulitan menyadap getah pinus.

Getah pinus adalah bahan baku gondorukem. Dampaknya, produksi gondorukem Perhutani tidak bisa mencapai target. Awalnya, Bambang optimistis, di 2013 ini, produksi gondorukem Perhutani bisa mencapai 72.000 ton. Namun, melihat perkembangan hingga saat ini, Bambang memperkirakan, sampai akhir tahun, produksi gondorukem Perhutani hanya berkisar 61.200- 64.800 ton.

Bambang bilang, empat bulan ini, produksi memang kacau balau selama 4 bulan ini. “Agak susah jika harus mencapai 100%,” kata Bambang. Di tahun lalu, produksi gondorokem Perhutani berlimpah. Bahkan, Perhutani kelebihan stok gondorukem hingga 20.000 ton. “Kami sampai bingung harus jual ke mana?” katanya.

Gondorukem Perhutani banyak yang dijual ke luar negeri. Adapun negara tujuan ekspor adalah China, Jepang, India, Taiwan, Belanda dan Turki. Supaya tidak terlalu bergantung kepada gondorukem, Perhutani membangun pabrik derivatif getah pinus.

Dari hasil getah pinus, Perhutani tak hanya menghasilkan gondorukem melainkan produk lainnya seperti glicerol rosine ester , alpha pinen, beta pinen, delta carene, alpha terpinol, cineol dan diterpen.

Produk- produk tersebut merupakan bahan baku industri kosmetik, farmasi, kertas, cat dan tinta Pabrik pengolahan derivatif getah pinus ini dibangun di Pemalang, Jawa Tengah.

Pabrik yang berkapasitas getah pinus sebesar 24.500 ton ini menelan dana investasi sekitar Rp 198 miliar. “Pabrik sudah masih commisioning (uji coba) Oktober ini,” kata Bambang yang mengharapkan pabrik akan beroperasi penuh tahun 2014. Tahun ini, Perhutani memproyeksikan pendapatan mencapai Rp 3,9 triliun.

Sampai Agustus, Perhutani sudah mengantongi pendapatan sebesar Rp 2,37 triliun. Kontribusi pendapatan paling besar berasal dari sektor kayu yakni Rp 1,27 triliun. Sedangkan yang Rp 1,1 triliun adalah hasil penjualan produk non kayu.

Jurnalis : Maria Elga Ayudi
Kontan | 18 Oktober 2013 | Hal. 17

Share:
[addtoany]