"Loading..."

Satu Tekad Di Kawah Wurung

Radar Jember – SEMPOL — Satu kata dan satu tekad untuk mengembangkan pariwisata. Setidaknya itulah yang tergambar saat penandatangan MoU pengembangan dan pengelolaan pariwisata antara Pemkab, pemangku kawasan dan Garuda Indonesia di Kawah Wurung, Curahmacan, Kalianyar, Sempol akhir pekan kemarin (25/4).

Keindahan dan sejuknya alam Kawah Wurung menjadi saksi keinginan yang sama antara berbagai pihak tersebut untuk mengembangkan pariwisata. MoU dilakukan langsung oleh bupati Amin Said Husni dengan Adm KPH Perhutani Bondowoso Adi Winarno dan Kepala Bidang KSDA Wil III Jember Sunandar
Selain itu, Adm Kebun Kalisat- Jampit PTPN XII Agus Sumariyanto dan Adm Kebun Blawan PTPN XII Ardi dan Ardi Iriantono serta Sales Manager Garuda Indonesia Wilayah Jember Budi Priantoro. Penandatangan tersebut juga disaksikan oleh ketua DPRD Bondowoso, Kapolres, Dandim 0822, Kepala Kejaksaan Bondowoso hingga Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember yang selama ini memang konsern terhadap pengembangan pariwisata.

Amin mengatakan, teken kerjasama ini untuk pengelolahan dan pengembangan pariwisata ini tidak hanya terkait Kawah Wurung dan Kawah Ijen saja. Akan tetapi juga termasuk sarana pariwisata pendukung lainya. Misalnya, air panas di Blawan, Air Terjun Tancak hingga Rafting Bosamba. Sekitar 75 persen daerah wisata Kawah Wurung terletak dikawasan milik Perhutani, BKSDA dan PTPN XII.

Maka dengan ditandatanganinya MOU tersebut, tentu akan mempermudah bagi Pemkab untuk mengembangkan kawasan tersebut. Amin juga mengatakan, bukan hanya Kawah Wurung, hampir seluruh wisata lokal di Bondowoso berada di kawasan perhutani, dan BKSDA. Semisal, batu soson yang ada di Solor Cerme, dan Tancak Kembar yang juga berada di wilayah Perhutani. Sementara itu, kawah ijen dan kali pahit berada di wilayah BKSDA.

Amin berharap, dengan ditandatanganinya MOU ini pengembangan wisata lokal di Bomdowoso bisa berkembang pesat serta mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat Bondowoso, khususnya masyarakat sekitar kawasan wisata. “Ini adalah upaya percepatan pengembangan wisata.

Dengan adanya MOU ini, tindak lanjutnya Disparporahub Bondowoso untuk memberikan kemudahan ke Kawah Wurung atau tujuan wisata lainya,” ungkapnya. Adi Sumarno, Adm KPH Perhutani menjelaskan, langkah pengembangan dan pengelolaan pariwisata ini harus diikuti dengan upaya untuk tetap menjaga kawasan hutan. Jangan sampai pengelolaan pariwisa ini justru merusak lingkungan. Pihaknya akan segera melakkukan pemetaan terkait dengan objek-objek yang akan dikembangkan. Sementara sales manager Garuda Indonesia wilayah Jember, Budi Priantoro, kerjasama ini sama dengan tujuan Garuda Indonesia untuk mendongkrak ekonomi lewat budaya dan pariwisata.

Sehingga wisatawan Bondowoso akan meningkat dan tidak hanya berkunjung ke Kawah Ijen, tapi ke tempat lainya. Di antara daerah Eks Karisedenan Besuki atau tapal kuda, hanya Bondowoso yang tidak memiliki garis pantai. Hal itu bukan menjadi kekurangan tapi kelebihan, lantaran wisatawan asing sepertinya rindu daerah pegunungan maupun lembah dibandingkan pantai.

Oleh karenanya Budi optimis wisata lokal di Bondowoso akan berkembang pesat jika Pemkab membuktikan keseriusannya untuk mengelola wisata yang ada di Bondowoso. Kawah Wurung, merupakan wisata yang diprioritaskan oleh Pemkab Bondowoso untuk dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata di Bondowoso.

Keindahan alam yang luar biasa, seperti gundukan- gundukan bukit yang diselimuti savana, serupa pemandangan dalam serial teletubies. Di Kawah Wurung ini juga menjadi surga pecinta olahraga ekstrim, diantaranya paralayang, trail, hingga berkuda. Arip Setyoraharjo dari Kasi Promosi Pariwisata Disparporahub mengatakan, setelah tindak lanjut MOU ini akan segera menyusun bentuk kerjasama dan menyusun program kawasan pariwisata. Perhutani sebagai pemangku wilayah Kawah Wurung juga ada tempat wisata lainya, yang termasuk lokasi dari Perhutani. Antara lain, Tancak Kembar di Pakem, dan Batu Solor di Cerme.

Sementara untuk BKSDA terdapat Kali Pahit yang juga patut untuk dikembangkan mengingat kunjungan wisatawan sering mengabadikan foto di tempat itu. Pada intinya operator di destinasi wisata ini adalah berbasis masyarakat dimana juga mengoptimalkan potensi masyarkat, seperti kuda yang sekarang hanya sebagai hewan angkut rumput masyarakat Sempol. Dengan Perhutani, masyarakat dan LMDH akan tetap berupaya tidak merusak kawasan inti alami kawah wurung. Untuk trail atau sepeda akan ada jalur khusus, dan tidak boleh membuka jalur lainya.

Iswahyudi, ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Bondowoso menjelaskan, MoU ini merupakan langkah maju bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi pariwisata yang dimiliki. “Dengan adanya MoU ini, tentu sudah ada kesepahaman antara pemda dan instansi terkait seperti Perhutani, BKSDA atau pun PTPN XII sebagai pemangku kawasan tentang bagaimana objek-objek yang ada akan dikembangkan,” tukasnya.

Kendati begitu, kata dia, upaya tersebut tentu jangan sampai berhenti pada kegiatan seremonial saja. Banyak tantangan yang harus dihadapi ke depan. Langkah-langkah konkret harus segere dijalankan. “MoU ini sebagai landasan awal. Tentu harus langsung diikuti dengan program-program yang pas sehingga akselerasi pengembangan pariwisata ini bisa terwujud,” pungkasnya.(dwi/wah)

Sumber : Radar Jember, hal. 3 & 4
Tanggal : 27 April 2015

Share:
[addtoany]