"Loading..."

"Sekarang senang, Ada Yang Ngajak Main…"

KECERIAAN terlihat dari wajah bocah-bocah di halaman BKPH Perhutani Karangkobar, Banjarnegara, Kamis (18/12) pagi. Mereka tertawa renyah, melupakan sejenak ketakutan dan kejenuhan selama berada di penampungan pengungsi akibat bencana longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang.
Dias Restu Pratama (10) bersorak riang bersama teman-temannya saat bermain lempar bola. Yang tidak bisa menangkap bola dihukum bernyanyi di depan teman yang lain. Mereka sangat menikmati permainan itu. “Kalau di rumah, saya juga senang main bola,” ujar Dias, asal Desa Sampang, Karangkobar.
Menurutnya, dia bersama keluarga terpaksa mengungsi ke kantor Kecamatan Karangkobar karena takut tertimpa longsor. Pasalnya, dusun tempat tingganya bersebelahan dengan Dusun Jemblung. Karena mengungsi, dia pun berhenti sekolah sementara. “Sekarang senang, soalnya ada yang ngajak main,” tuturnya.
Pekerja sosial dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung Irniyati mengatakan, permainan tersebut merupakan bagian dari trauma healing atau pemulihan dari rasa trauma. Bencana dapat menimbulkan trauma psikologis terhadap mereka yang mengalami atau menyaksikan. “Bagi anak-anak, jika trauma tidak tertangani akan berdampak terhadap tumbuh kembang ke depan,” papar dia.
Dikatakannya, permainan merupakan salah satu cara untuk mengetahui tingkat trauma yang dialami anak-anak. Melalui permainan, akan diketahui bagaimana reaksi dan interaksi pascabencana. “Sejauh ini, kami belum menemukan trauma berat. Mungkin karena mereka tidak mengalami sendiri bencana tersebut. Bisa jadi, kondisinya berbeda dari anak-anak di penampungan TPQ Darussalam, karena mereka terdampak langsung,” ujarnya.
Sulit Dilupakan
Menurut Irniyati, selain anakanak, pihaknya juga melakukan hal serupa kepada orang dewasa. Bagaimanapun, pengalaman bencana yang menelan nyawa anggota keluarga dan harta benda akan sulit dilupakan.
“Kami membantu menghilangkan kecemasan dan rasa kehilangan itu agar mereka bisa kembali beraktivitas dengan normal,” tuturnya. Irniyati menambahkan, pada taraf trauma berat, ketakutan bisa saja muncul kembali saat korban mendengar suara atau melihat sesuatu yang mengingatkan pada bencana yang dialami.
“Karena itu, perasaan cemas dan takut ini perlu diatasi sejak dini,” terang dia. Petugas kesehatan posko induk kesehatan di Puskesmas Karangkobar dokter Triaditama mengapresiasi partisipasi berbagai pihak yang ikut dalam penanganan kesehatan korban bencana. Selain layanan kesehatan, mereka juga memberikan pemulihan trauma. “Hanya, layanan trauma healing ini tidak dilaporkan ke puskesmas, sehingga tidak terjadwal dengan baik,” paparnya.
Hingga Kamis (18/12) petang, jumlah pengungsi bencana di Banjarnegara 1.397 orang yang tersebar di beberapa lokasi. Dari jumlah tersebut, 206 di antaranya anak-anak, 95 balita, dan 16 bayi. (Castro Suwito-59)
 
Sumber  :  Suara Merdeka, Hal 11
Tanggal  :  19 Desember 2014

Share:
[addtoany]