"Loading..."

Selesai Dengan Diri, Fokus Ke Perusahaan

SETIBA di blok VII lantai 10 Gedung Manggala Wanabakti pukul 10.40 WIB, Media Indonesia ternyata masih harus menunggu untuk bisa bertemu dengan Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar.
Setelah 30 menit menunggu, kesempatan mewawancarai Mustoha pun tiba. Media Indonesia dipersilakan masuk ke ruangan direktur utama yang pintunya selalu terbuka.Ternyata itu memiliki makna, yakni karakter kepemimpinan yang dijunjung ialah terbuka.
“Tidak ada manajemen `selingkuh’, semua kita sampaikan secara terbuka, enggak ada sembunyi-sembunyi,” ujarnya ketika berbincang dengan Media Indonesia di kantornya, akhir pekan lalu.
Mustoha mengaku pantang menolak orang yang ingin bertemu dengannya. Keluhan orang tersebut bisa menciptakan image yang negatif.Pertemuan membantunya mendapatkan informasi.
Ada juga yang ingin bertemu dengannya untuk meminta sumbangan atau bantuan.Khusus untuk mahasiswa, ia selalu menyetujui. Istilahnya tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”Saya yang enggak bisa nolak untuk sumbangan mahasiswa karena saya dulu aktivis,” tuturnya.
Aktifnya Mustoha di kegiatan kampus diakuinya membantunya memiliki sifat cepat dalam mengambil keputusan karena sikap leadership sudah terlatih sejak mahasiswa. Pria yang hobi joging itu mengaku bahwa pemimpin memiliki tugas pokok, yaitu bagaimana harapan semua orang bisa diakomodasi (manange hope).”Jadi, pemimpin itu bisa tidak bisa memuaskan semua orang.Itu omong kosong (kalau bisa),” ujarnya. Dalam setiap pengambilan keputusan, ia mengesampingkan kepentingan pribadi.Menurutnya, penghasilan dari perusahaan dianggap sudah cukup. Hal itulah yang membuat dirinya pribadi memikirkan untuk mengembangkan perusahaan.
“Saya sudah selesai dengan diri saya. Artinya bahwa kita berpikir, khusus untuk perusahaan,” ucap Mustoha.
Pria kelahiran 10 Agustus 1960 itu juga memiliki pandang an bahwa harta harus dilihat dari kualitas yang ditentukan metode mendapatkan.Bukan berapa banyak jumlah yang ia miliki. “Barulah dalam hukum agama muncul kebarokahan atau keberkahan.Itu membuat harta kita enggak pernah habis,” ungkapnya.Kuasai segala bidang Memiliki gelar doktor (S-3) ternyata belum memuaskan Mustoha untuk berhenti belajar. Ia juga memiliki tiga gelar sarjana (S-1) dan satu master (S-2). Pada 2014 lalu, ia baru saja meraih sarjana ilmu Hukum Universitas Krisnadwipayana (Unkris), Jakarta.
Fakultas hukum menjadi pilihan Mustoha karena baginya setiap orang akan menghadapi persoalan ataupun permasalahan hukum. Karena itu, pemahaman hukum akan menciptakan perlindungan bagi dirinya secara pribadi.
“Kalau kita enggak mengerti hukum, ketika berhadapan dengan masalah hukum, pasti kita gagap dan bingung menghadapinya,” katanya.
Selain itu, pihak yang berkonflik akan khawatir atau mempertimbangkan bila berseteru dengan pribadi yang berlatar belakang pendidikan hukum.
Keputusan untuk kembali memulai pendidikan juga untuk melatih emosi. Mustoha yang memiliki gelar doktor harus menerima kenyataan bahwa dirinya diajar dosen yang bergelar S-2. Sementara itu, pada sore harinya, ia mengajar mahasiswa yang sedang melanjutkan jenjang pendidikan ke S-3. “Mengatur emosi ini yang paling susah,” tuturnya.
Mustoha mengaku dirinya tidak mendapat perlakuan khusus meski memiliki gelar doktor. Ia tetap diminta untuk presentasi di depan kelas dan menjalani ujian tertulis layaknya mahasiswa yang baru lulus dari SMA (sekolah menengah atas).
Setiap kegiatan itu dinikmati Mustoha. Faktanya ia harus menerima panggilan `ayah’ dan `cium tangan’ sebagai bentuk hormat kepadanya dari teman-teman sekelas.
“Mereka lahir 1990-an, sedangkan saya lahir 1960-an,” ucap pria lulusan tertua, tercepat, serta lulus cum laude (IP 3,88) sembari tertawa.
Di tengah-tengah kesibukannya, ia masih mengajar di Kwik Kian Gie School of Business di Sunter, Jakarta Utara, seusai menyelesaikan aktivitas utamanya.
Mustoha berpendapat mengedukasi merupakan sarana untuk mengisi kembali energi. “Enggak ada capek. Yang penting berdoa jangan sakit,” tuturnya.
Meski demikian, ia menyiratkan kesedihannya ketika anaknya mengeluh akan kesibukannya. Apalagi datang dari anaknya yang bungsu.
Mustoha menceritakan anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar kelas V menangis di malam hari. Ia menanyakan alasannya. Putrinya mengungkapkan kekecewaannya karena Mustoha belum pernah hadir dalam family gathering yang diadakan sekolahnya.
“Abi (panggilan anak kepada ayahnya) enggak pernah nemenin sekali pun,” ucapnya.
Wa l a u p u n i s t r i ny a m e mahami kesibukan dirinya, kurangnya waktu luang untuk anak selalu menjadi pikiran Mustoha. Untuk mengatasinya, ia selalu meluangkan waktu di akhir pekan bersama keluarga meski hanya jalan-jalan di pusat perbelanjaan (mal) atau makan malam bersama.Target Perhutani Setelah menjadi nakhoda Perum Perhutani sejak Oktober 2014, Mustoha mengaku pihaknya akan membantu pemerintah di bidang tanaman pangan. Salah satunya ialah dengan memperlebar jarak tanam di kawasan hutan, dengan target lahan seluas 267 ribu hektare (ha) untuk tahun pertama.
“Saya meyakini metode itu akan menaikkan produktivitas hasil pertanian,” katanya.
Apalagi kebijakan itu didukung pemerintah dengan kebijakan memberikan ruang sub sidi bagi petani hutan. Bantuan yang diberikan, yakni subsidi pupuk dan benih untuk petani hutan yang selama ini belum mendapat subsidi. Ketentuan itu mengatur bahwa bantuan hanya diberikan petani yang menggarap lahan mereka sendiri, sedangkan petani yang menggarap lahan negara tidak diberikan. Subsidi akan membantu petani hutan untuk menggarap kawasan hutan dalam memproduksi, seperti padi dan jagung.
Di samping itu, Perhutani akan menerbitkan kartu keanggotaan bagi petani hutan yang memproduksi tanaman pokok. Fasilitas itu akan memudahkan untuk mendapatkan kredit karena terdaftar sebagai anggota resmi. Perhutani juga berencana bekerja sama dengan perbankan untuk menyalurkan pinjaman.
Selain tanaman pangan, Perhutani menyiapkan tanaman energi. Program itu akan menjadi solusi untuk kebutuhan energi. Apalagi diperkirakan dalam kurun waktu 11 tahun mendatang, minyak bumi akan habis, sementara kebutuhan tetap ada.
Ia mengatakan Perhutani bermitra dengan perusahaan asal Korea untuk melaksanakan pilot project untuk tanaman energi di Semarang, Jawa Tengah. Luas lahannya mencapai 2.000 ha di 2015.BUMN di sektor kehutanan juga ingin mengembangkan microminihydro untuk pembangkit listrik.
Mustoha juga menegaskan Perhutani mengembangkan lini nonkayu yang saat ini komposisinya masih 52% jika dibandingkan dengan kayu (48%) sebagai pendapatan.
“Idealnya 30% dari kayu dan 70% nonkayu. Targetnya dalam kurun waktu dua tiga tahun sudah bisa berubah,” papar pria yang satu angkutan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu.
Produk nonkayu antara lain gondorukem, minyak terpentin, dan minyak kayu putih. Untuk minyak kayu putih, Perhutani akan kembangkan secara skala besar. “Setiap tahun kami akan menaman tanaman minyak kayu putih 10 ribu ha setiap tahunnya,” tambah ayah dengan dua anak itu. (E-3)
Sumber    : Media Indonesia, hal.19
Tanggal    : 23 Maret 2015

Share:
[addtoany]