"Loading..."

Sengon Capai 12 Ribu Hektar

BONDOWOSO – Dalam kurun waktu tujuh tahun ini belakangan ini, terjadi perubahan cukup signifikan terhadap kondisi lahan yang dimiliki masyarakat Bondowoso. Masyarakat, khususnya petani menanami lahan mereka dengan pohon sengon, gemelina, jati dan tanaman sejenis lainnya. Mereka melakukan konservasi alam sehingga lahan menjadi subur.

Selain itu, warga mampu mendapatkan penghasilan lebih karena kayu sengon yang punya nilai ekonomis itu dijual ke pabrik triplek. Tak ayal, terjadi perubahan ekonomi yang cukup signifikan kepada petani di Bondowoso.
Bupati Bondowoso Amin Said Husni mengatakan sejak ia memimpin Bondowoso pada Agustus 2008, ia melihat ada sekitar dua ribu hektare lahan yang ditanami sengon di Bondowoso. Pada 2015 ini, luas lahan yang ditanami sengon dan sejenisnya mengalami kenaikan berlipat-lipat.
“Awalnya hanya dua ribu hektare, saat ini sudah mencapai 12 ribu hektare,” katanya kepada Jawa Pos Radar Ijen, Rabu (18/2). Kenaikan sebanyak 10 ribu hektare itu mendapat apresiasi dari Amin Said Husni. Sebab, lahan yang tadinya kosong atau tidak produktif, saat ini menjadi produktif. Lahan yang dimiliki masyarakat menjadi lebih subur. Selain itu, lahan yang produktif akan menjadikan area lahan menjadi sumber mata air.
“Masyarakat akan hidup makmur,” katanya. Lahan yang berubah menjadi hutan sengon, akan mencegah dari erosi dan degradasi lahan. Namun yang lebih penting lagi, kata Amin, masyarakat atau petani yang menanam sengon menjadi kaya raya. Sebab, sengonsengon itu dijual ke pabrik triplek. “Sengon yang punya nilai ekonomis tinggi itu mempu mendongkrak pendapatan masyarakat,” katanya. Apalagi sebatang pohon sengon yang berumur lima tahunan dengan diameter 40 sentimeter dan panjang tujuh meter itu bisa dijual dengan harga tinggi. “Harganya bisa mencapai Rp 300 ribu bahkan lebih per batangnya,” katanya.
Tidak heran, jika seorang petani memiliki satu hektar lahan sengon, maka menghasilkan uang milyaran rupiah. Tak heran jika masyarakat yang punya lahan, akan senang menanaminya dengan sengon. Sedangkan usaha yang sudah dilakukan oleh Pemkab Bondowoso, dalam hal ini adalah Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) adalah dengan memberikan bantuan bibit sengon gratis kepada masyarakat. “Setiap tahun, kami memberikan bibit sengon sebanyak 400 ribu pohon kepada masyarakat,” katanya.
Selain itu, ada bantuan pemberian bibit dari BP DAS Bondowoso dan KPH Perhutani Bondowoso kepada masyarakat. Juga, pemkab membentuk kelompok bibit rakyat (KBR) di setiap desa. “Setiap KBR memproduksi bibit sengon sebanyak 40 ribu bibit. Lalu, bibit itu diberikan kepada masyarakat atau petani,” katanya. Tidak heran, jika saat ini lahan milik masyarakat terlihat ijo royo-royo karena berubah menjadi hutan sengon. “Kelak anak cucu mereka akan senang karena diwarisi lahan yang subur dan produktif,” pungkasnya. (eko/wah)
Sumber    : Radar Jember, hal 3 & 4
Tanggal    : 20 Februari 2015

Share:
[addtoany]