"Loading..."

Sensasi di Goa Buniayu

Sebagai tempat wisata, goa relatif belum populer untuk dieksplorasi dibandingkan dengan gunung dan pantai. Kesan gelap dan berbahaya yang melekat pada goa menjadikan kegiatan caving atau susur goa kurang terdengar dibandingkan kegiatan petualangan lainnya.
Jika Anda juga beranggapan demikian, berkenalanlah dengan Goa Buniayu di Sukabumi, Jawa Barat. Kecantikannya akan mengubah kesan tak menarik yang melekat pada goa.
Nama Buniayu berasal dari bahasa Sunda, yaitu buni dan ayu yang berarti kecantikan yang tersembunyi. Nama yang pantas bagi goa yang dikelola Perum Perhutani ini.
Terletak di kawasan seluas sekitar 10 hektar, goa ini memiliki puluhan mulut yang bercabang-cabang. Berdasarkan keterangan pemandu perjalanan kami, Kang Wawan, terdapat 48 mulut goa.
Dari puluhan cabang goa yang sudah berhasil dipetakan antara lain Goa Cipicung (panjang sekitar 3.300 m), Bibijilan (sekitar 700 m), dan Adni (sekitar 600 m).
Menurut Kang Wawan, jauh sebelum keindahan goa populer, Goa Buniayu pernah menjadi lokasi pengambilan gambar film serial laga yang terkenal pada masanya. Beberapa dari kita pasti tahu kisah Si Buta dari Goa Hantu. Sesosok pendekar buta dalam dunia persilatan yang bertualang bersama kawan setianya, monyet, bernama Nara.
Terlepas dari lokasi pengambilan gambar, kata ”buta” juga mengandung arti tersendiri bagi goa ini. Di goa yang terletak sekitar 60 meter di bawah permukaan bumi ini cahaya merupakan suatu hal yang hampir mustahil ditemukan tanpa alat bantu seperti senter dan head lamp. Di sini Anda seakan merasakan kebutaan yang sebenarnya.
Masih berhubungan dengan kebutaan, Kang Wawan berkata, ”Hewan yang hidup di Goa Buniayu cukup beragam seperti jangkrik, kelelawar, laba-laba, dan kadal. Hampir semua hewan itu mengalami buta permanen karena tidak melihat cahaya sedikit pun dalam waktu lama.”
”Mereka mengandalkan indera penciuman dan perasa untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Kegelapan abadi
Dari sekian banyak goa yang ada, kecantikan Goa Buniayu terwakili lewat dua jenis penelusuran. Pertama, penelusuran goa minat umum dengan panjang sekitar 500 meter. Kedua, penelusuran goa minat khusus yang memakan waktu perjalanan sekitar 4-5 jam.
Bersama tim dari Forum Backpacker Indonesia, penelusuran goa minat umum menjadi pilihan pertama untuk dijelajahi. Penelusuran ini menjadi perkenalan kegiatan susur goa.
Meski hanya perkenalan, keindahan goa itu tidak bisa diremehkan. Pemandangan stalaktit, stalakmit, dan flow stone di dalamnya akan membuat Anda kagum. Keberadaan ratusan kelelawar sebagai penunggu goa semakin membuat kegiatan penelusuran terasa mendebarkan.
Selanjutnya adalah penelusuran goa minat khusus. Penelusuran ini membutuhkan persiapan mental dan stamina prima. Anda akan memasuki goa secara vertikal dengan menggunakan teknik rappelling. Melalui mulut goa, Anda akan dikerek dengan tali dari ketinggian hampir 30 meter sampai di dasar goa. Suara aliran air yang menyambut di bawah menambah sensasi petualangan kita.
Perjalanan panjang dimulai ketika Anda menapakkan kaki di dasar Goa Buniayu. Perjalanan yang melelahkan ini sebanding dengan apa yang kita dapatkan di sini. Ornamen-ornamen indah yang terbentuk dari stalaktit, stalakmit, drapery, gourdam, dan flow stone itu begitu mengesankan.
Setelah sekian lama menyusuri goa, kami tiba di zona kegelapan abadi. Disebut demikian karena pada zona ini tidak ada cahaya sedikit pun. Jangankan teman di sisi Anda, telunjuk yang diletakkan di depan mata sendiri pun tidak terlihat.
Memasuki daerah akhir, kami menempuh medan lumpur yang paling berat dilalui. Lumpur kental dengan tinggi sekitar 50 sentimeter menguras tenaga kami. Kami perlu energi ekstra untuk mencengkeram bot dengan kaki agar tak tertinggal di dalam lumpur.
Dari Goa Buniayu kita belajar menghargai betapa pentingnya cahaya. Kegelapan dan segala keindahan yang ada di dalam goa mengajarkan kita betapa cahaya merupakan sesuatu yang harus disyukuri keberadaannya.
”Cahaya merupakan hal penting yang terkadang lupa untuk kita syukuri,” ucap Kang Wawan.

Kompas hal. 35 :: Selasa, 19 Februari 2013
Penulis : Thomas Aquinas Dewaranu Jurusan Ilmu Hukum FH UI, Depok, Jawa Barat

Share:
[addtoany]