"Loading..."

Sutego dan Kerupuk Rambak “Cipta Rasa”

cover rimba dayaKerapkali orang tua perlu menurunkan usaha yang telah mereka rintis kepada anak-anaknya. Hal itu untuk menjaga kelangsungan usaha. Tetapi, yang lebih penting lagi adalah warisan keahlian. Sebab, dengan keahlian yang dimiliki, anak-anak yang menerima warisan itu akan sanggup bertahan dan bahkan mengembangkan usaha orangtuanya.
Hal itu pulalah yang dialami Sutego. Lelaki paruh baya yang tinggal di Desa Penanggulan, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Sejak tahun 1985, anak ketiga dari lima bersaudara itu mewarisi usaha pengolahan kerupuk rambah dari orangtuanya, Almarhumah Ibu Sumiyah, yang semasa hidupnya dulu merupakan perajin krupuk rambak.
Meski kini telah memasuki usia separuh baya, Sutego beserta istri tetap gigih menjalankan usaha pembuatan kerupuk rambak atau kerupuk kulit itu. Sehari-hari, dalam menjalankan usaha kerupuk rambak, Sutego dan istri dibantu salah satu putra mereka, serta lima orang karyawan.
Yang unik, sejak mengambilalih usaha ibunya yang meninggal dunia tahun 1985, Sutego tetap memertahankan cara manual dan tradisional. Cara tradisional dan manual dalam menjalankan usaha pembuatan kerupuk rambak yang menggunakan bahan dasar kulit kerbau ini ditekuni Sutego sejak proses pembersihan kulit, pemotongan sesuai bentuk dasar kerupuk rambak, sampai dengan proses pengeringan, hingga kerupuk siap untuk digoreng.
“Pembuatan kerupuk rambak dengan cara tradisional membuat mutu lebih terjaga,” tuturnya.
Sutego pun melanjutkan, sampai saat ini ia belum pernah menemui atau melihat di antara para perajin kerupuk rambak – baik di daerah sekitar tempat tinggalnya maupun di luar Desa Penanggulan – yang membersihkan kulit untuk bahan pembuatan kerupuk rambak dengan menggunakan peralatan yang lebih modern. Sehingga, ia tidak bisa memerkirakan, apakah cara modern akan lebih mudah dan lebih cepat dalam proses pembersihan kulit kerbau tersebut. Baik pembersihan dari kulit paling luar, sisa daging, dan lain-lain.
“Yang saya tahu ya dengan cara tradisional tadi. Jika kita rasakan, memang proses pembuatannya agak sedikit rumit, namun seimbang dengan harga jual kerupuk rambak yang kami hasilkan,” ujarnya.
Padahal menurut Sutego, sebetulnya ada beberapa kekurangan yang didapat dari metode tradisional dengan menggunakan cara manual seperti yang ia lakoni sehari-hari. Misalnya, dalam hal pemotongan yang menurut dia kurang rapi, ukuran tebal dan tipisnya berbeda, serta kurang cepat. Sehingga, proses pembuatan kerupuk rambak membutuhkan waktu yang agak lama.
Padahal, proses pembuatan kerupuk rambak ini dituturkannya sangat membutuhkan panas matahari. Di dalam proses menjemur bahan kerupuk rambak sampai siap goreng, biasanya membutuhkan waktu 3-4 hari di bawah terik matahari yang sempurna. Jika belum siap untuk disimpan, kerupuk-kerupuk rambak itu harus tetap berada di bawah sinar matahari. Sebab, bahan kerupuk rambak harus diusahakan dalam keadaan kering. Tidak boleh menyimpan bahan rambak dalam keadaan basah atau lembab, karena hal itu akan menyebabkan bahan kerupuk rambak menjadi rusak, bahkan busuk, dan tidak bisa dilanjutkan ke proses selanjutnya.
Kulit Kerbau
Di banyak tempat, kerupuk rambak menggunakan bahan dasar kulit sapi yang dikeringkan. Tetapi, Sutego menggunakan kulit kerbau. Begitu pula perajin kerupuk rambak lain yang terdapat di Desa Penanggulan. Oya, di Desa Penanggulan terdapat sekitar sepuluh perajin yang masing–masing menggunakan bahan dasar kulit kerbau.
Sutego menyebut, alasan dia menggunakan kulit kerbau, karena lebih tebal dan bisa mengembang. Hal itu berbeda jika menggunakan kulit sapi. Sehingga, menurut Sutego, di daerah tersebut kulit sapi biasa digunakan sebagai rambak sayur.
“Memang proses pembuatan rambak dari kulit kerbau ini bisa dibilang cukup rumit. Karena dari proses pembersihan kulitnya saja harus sampai bersih dan berwarna putih. Kita harus betul-betul menghilangkan lapisan yang berwarna hitam pada kulit kerbau. Jika proses pembersihan kulit tidak sampai bersih, akan menimbulkan bercak warna dan rasanya kurang ‘nyus’,” jelas Sutego.
Mencari bahan dasar kulit kerbau juga tidak semudah mendapatkan kulit sapi. Dulu, Sutego kerap kali mendapatkan kulit kerbau dari Pekalongan. Sebab, ketika itu di kota batik Pekalongan masih banyak kerbau yang dipotong karena masyarakatnya masih banyak yang membutuhkan daging kerbau. Namun, sekarang masyarakat di Pekalongan bisa dikatakan tidak lagi memotong kerbau. Sebab, mereka lebih banyak memotong sapi.
“Sehingga, untuk mendapatkan kulit kerbau kita pindah ke daerah Demak. Karena di Demak banyak masyarakat yang memotong kerbau. Namun, Demak juga menjadi tempat tujuan para perajin rambak dari daerah lain untuk mendapatkan kulit kerbau. Jadi, kita harus pintar-pintar melobi rumah potong hewan atau para pedagang yang biasa melaksanakan pemotongan kerbau, untuk mendapatkan kulit kerbau. Biar nanti pas ada acara tertentu yang banyak memotong kerbau, mereka akan menghubungi kita,” kata Sutego.
Maka, di acara-acara yang melibatkan kerbau, Sutego kerap mendapatkan pasokan bahan baku yang lumayan banyak. Misalnya, jika ada acara hajatan atau kenduri, hari raya Idul Adha, dan momen-momen tertentu lainnya. Di saat-saat seperti itu, kata dia, banyak orang yang memotong kerbau.
“Di waktu-waktu seperti itu, kita tidak boleh sia-siakan kesempatan. Sebisa mungkin kita mendapatkan kulit sebanyak–banyaknya, kemudian kita proses sampai benar–benar kering dan siap untuk digoreng. Selanjutnya, kulit yang sudah kering dan siap goring itu kita simpan sebagai tandon atau cadangan kerupuk rambak yang siap goreng dan kita keluarkan saat kita mau menggoreng,” kisahnya.
Harapkan Bimbingan
Kendati tetap menjalankan usaha pengolahan kerupuk rambak kulit kerbau dengan cara tradisional, sebagai bagian dari peninggalan orang tua, Sutego tak menampik bahwa mereka butuh masukan dari sesama perajin ataupun pengusaha yang sudah sukses. “Untuk ke depannya, para perajin kerupuk rambak di daerah Penanggulan ini sebetulnya sangat membutuhkan bimbingan dari para pengusaha atau instansi yang ada di Kabupaten Kendal khususnya, agar kita bisa berkembang, maju, dan dikenal oleh masyarakat di luar Kendal,” kata Sutego.
Kesadaran akan pentingnya terus menambah wawasan demi kemajuan usaha membuat Sutego kerap mencari pengetahuan baru. Kerap kali, untuk mengembangkan usaha, bapak tiga anak ini mengajak para perajin kerupuk rambak untuk membuat kelompok dan mengajukan permohonan bimbingan atau modal kerja kepada instansi-instansi yang bisa memberikan bimbingan atau mengucurkan pinjaman kepada kelompok pengusaha kecil.
Namun, diakuinya, kadang para perajin sulit untuk diajak membentuk kelompok. Mereka lebih memilih untuk berjalan sendiri-sendiri. Hal yang menurut Sutego adalah kurang pas.
“Karena kalau berjalan sendiri, kadang kita mendapatkan hasil tetapi kadang juga mengalami kerugian. Saat mengalami kerugian itu, jika kita punya kelompok kan ada yang membantu berpikir dan mencari cara untuk membangkitkan kembali, bukan semakin terpuruk,” kata Sutego.
Berkali-kali Sutego mengajak rekan-rekannya sesama perajin kerupuk rambak untuk membentuk kelompok, tetapi tidak mendapatkan hasil. Tetapi, Sutego tidak menyerah. Ia bertekad untuk mencoba dan memberikan contoh kepada rekan-rekannya tentang perlunya bermitra. Seiring dengan itu, Sutego sendiri juga mencari mitra.
“Kemudian, pada tahun 2003 saya mendapat informasi dari seorang karyawan Perum Perhutani KPH Kendal, bahwa di Perhutani ada pinjaman yang diperuntukkan bagi para perajin dan pengusaha kecil, khususnya yang tinggal di sekitar hutan, dengan bunga yang rendah. Setelah saya mendapatkan informasi tersebut, saya coba datang ke Kantor KPH Kendal dan menanyakan persyaratan untuk menjadi mitra binaan di KPH Kendal,” kisahnya.
Sutego tertarik akan informasi tersebut. Ia merasa sangat membutuhkan modal untuk menambah biaya pengadaan bahan baku bagi usaha kerupuk rambak, yaitu pembelian kulit kerbau yang semakin tahun semakin bertambah mahal harganya. Ia lantas membuat proposal pengajuan pinjaman. Proposal disetujui. Ia diberi pinjaman sebesar Rp 3.000.000 (Tiga juta rupiah) yang lagsung dibelanjakan untuk bahan baku kerupuk rambak.
Mitra Perhutani
Di masa awal menjadi mitra Perhutani, dalam satu bulan Sutego mampu membuat sekitar 150 kg kerupuk rambak. Jumlah itu membutuhkan 15 lembar kulit kerbau. Setelah menjadi mitra Perhutani KPH Kendal dan mendapatkan pinjaman modal, Sutego pun kerap ikut pameran.
“Alhamdulillah, kalau ada pameran-pameran yang diikuti Perum Perhutani KPH Kendal, produk saya selalu diikutkan. Alhamdulillah banyak yang laku. Bahkan sampai habis. Bahkan pameran yang diadakan di Madiun saat ulang tahun ke-52 Perum Perhutani. Jadi, ada keuntungan buat saya karena saya tidak perlu repot–repot membawa atau menyetor barang tersebut,” katanya.
Di tahun 2006, pinjaman Sutego lunas, dan usaha rambak kelompok mereka semakin dikenal masyarakat hingga ke luar Kendal, semisal Semarang, Salatiga, Pekalongan, dan daerah lain. Jadi, bagi masyarakat yang ingin mencicipi hasil kerajinan Sutego dan kelompoknya, silakan coba kerupuk rambak merek “Cipta Rasa” Pegandon, Kendal.
“Kenapa kami beri label Cipta Rasa? Nama Cipta Rasa kami maksudkan untuk menciptakan rasa yang digemari para konsumen. Karena kami sudah dikenal masyarakat di luar Kendal, permintaan pun semakin bertambah. Dalam satu hari saya harus bisa membuat 10 kg kerupuk rambak yang kami kemas dalam kardus kecil, karena konsumen lebih banyak membeli kerupuk rambak yang dikemas dalam kardus berukuran kecil dengan harga tiga puluh lima ribu rupiah,” katanya.
Demi memajukan usahanya, tahun 2011 Sutego mengajukan kembali pinjaman modal kerja PKBL ke Perum Perhutani KPH Kendal. Ia mendapat pinjaman modal sebesar Rp 8.000.000 (Delapan juta rupiah) yang digunakan untuk perputaran usaha mereka, serta mempercepat proses usaha agar dapat memenuhi kebutuhan pasar dan pesanan dari toko-toko dan rumah makan yang biasa menjadi konsumen produk rambak mereka.
“Tahun 2013, saya mencoba membeli mesin pegering atau oven seharga sekitar Rp 8.000.000 untuk mengeringkan bahan rambak tanpa mengandalkan panas matahari. Sebab, kalau sudah masuk musim hujan, tanpa mesin pengering atau oven, produksi kerupuk rambak sangat kacau. Permintaan banyak – karena musim hujan permintaan meningkat dibandingkan musin kemarau – sedangkan proses pembuatannya terganggu, terutama dalam penjemuran,” ujarnya.
Kini, Sutego dan kelompok usaha kerupuk rambak Desa Penanggulan kian melangkah maju. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Perhutani KPH Kendal yang telah membimbing kami dan ikut mempromosikan produk kami,” ujarnya sembari tersenyum.
Sutego pun melanjutkan, “Semoga dengan apa yang sudah kami contohkan kepada para perajin kerupuk rambak di daerah kami khususnya, mereka akan mau membentuk kelompok dan mau bermitra dengan instansi-instansi atau pengusaha. Dan semoga usahanya dapat lebih berkembang maju.” Amin. DR

Share:
[addtoany]